PERANAN ORANG
TUA TUNGGAL
DALAM
MEMBENTENGI ANAK DARI
PENGARUH NEGATIF
TAYANGAN TELEVISI
(Studi Kasus di
MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak)
![]() |
oleh:
1.
Dewi Zuli
Sukmawati (NIS.228)
2.
Rizqi Ananda
Safitri (NIS.273)
MADRASAH
ALIYAH NAHDLOTUSSIBYAN
WONOKETINGAL
KARANGANYAR
DEMAK
2015
|
HALAMAN
PENGESAHAN
Karya
tulis yang berjudul “Peranan Orang Tua Tunggal dalam Membentengi Anak dari
Pengaruh Negatif Tayangan Televisi (Studi Kasus di MA Nahdlotussibyan
Karanganyar Demak)”, telah disahkan oleh pembimbing pada:
Hari :
Kamis
Tanggal :
12 Februari 2015
Demak, Februari 2014
Pembimbing, Penulis
I
Hidayah Hidzyam Diniy, M.Pd. Dewi Zuli Sukmawati
Penulis II
Rizqi
Ananda Safitri
Menyetujui,
Kepala Madrasah
Muhammad Nasir, M.M
ABSTRAK
Televisi
merupakan salah satu alat elektronik yang berkembang saat ini dengan berbagai
bentuk dan kecanggihan. Hampir semua kalangan menyukai tayangan-tayangan
televisi, mulai anak-anak, remaja, dewasa, bahkan orang tua. Dari berbagai
macam tayangan televisi, terdapat pengaruh-pengaruh yang dapat ditimbulkan
khususnya bagi perkembangan psikologis anak. Peranan orang tua sangat penting
untuk membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi. Orang tua merupakan sahabat
terdekat anak ketika di rumah, dan segala sesuatu yang dilakukan oleh anak
merupakan tanggung jawab orang tua. Hal ini tentunya akan terasa sulit ketika
anak tidak mempunyai orang tua yang utuh atau orang tua tunggal (single parent). Proses pembimbingan anak
akan terasa berat dikarenakan orang tua akan bekerja sendirian dalam mendidik
anak-anaknya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan pembahasan
mengenai peranan orang tua tunggal dalam membentengi anak dari pengaruh negatif
tayangan televisi. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh negatif tayangan televisi yang dirasakan anak dan untuk
mengetahui cara orang tua tunggal untuk membentengi anak dari pengaruh negatif
tayangan televisi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Berdasarkan hasil
penelitian, dapat diperoleh data bahwa pengaruh negatif yang dirasakan oleh
anak dari tayangan televisi adalah menyebabkan malas belajar, menyebabkan
perebutan tayangan televisi dengan saudara, dan menyebabkan kecanduan untuk
melihat tayangan televisi. Sedangkan, cara orang tua untuk mengatasi masalah
tersebut, di antaranya adalah memberikan
nasihat seperti memperbolehkan menonton televisi tetapi harus diimbangi dengan
belajar, menonton televisi secara bersama-sama, dan mengatur jadwal menonton
televisi.
Kata kunci : orang tua tunggal, pengaruh negatif
televisi
KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah yang maha pengasih dan maha
penyayang, serta limpahan rahmat-Nya yang selalu tercurah kepada penulis,
sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini. Shalawat dan salam selalu
tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya. Semoga kita semua mendapat syafaat dari
beliau di hari akhir nanti.
Perkembangan televisi yang begitu pesat saat ini
diiringi pula dengan beragamnya tayangan televisi yang disuguhkan ke para
pemirsanya, mengakibatkan perlunya pendampingan orang tua terhadap
anaknya. Televisi merupakan salah satu
media massa elektronik yang memiliki pengaruh positif dan juga pengaruh negatif
terhadap anak. Melalui karya ilmiah ini, penulis ingin mengetahui bagaimana
peranan orang tua tunggal (single parent)
untuk membentengi anaknya dari pengaruh negatif tayangan televisi.
Pada kesempatan ini, penulis
menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam
penyusunan karya ilmiah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
merestui segala usaha kita. Penulis
menyadari atas segala keterbatasan dan kekurangan dari isi maupun tulisan karya
ilmiah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari
semua pihak sangat penulis harapkan demi perbaikan penulisan selanjutnya.
Akhirnya, penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi masyarakat
pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.
Demak, Februari 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... ii
ABSTRAK..................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR................................................................................... iv
DAFTAR ISI................................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR.................................................................................... vii
DAFTAR TABEL......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ix
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 5
1.3 Manfaat Penelitian........................................................................... 5
1.4 Tujuan Penelitian.............................................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................ 6
2.1 Pengertian Orang Tua Tunggal.......................................................... 6
2.2 Anak dan Televisi..............................................................................
8
BAB III METODE
PENELITIAN............................................................ 11
3.1 Pendekatan Penelitian ...................................................................... 11
3.2 Populasi
dan Sampel Penelitian......................................................... 11
3.3 Metode
Pengambilan Data................................................................ 12
3.4
Metode Analisis Data........................................................................ 13
BAB IV PELAKSANAAN
DAN HASIL PENELITIAN....................... 14
4.1 Orientasi dan Kancah Penelitian ...................................................... 14
4.2 Pelaksanaan
Penelitian...................................................................... 15
4.3 Hasil
Penelitian.................................................................................. 15
4.4
Pembahasan....................................................................................... 18
BAB V PENUTUP
...................................................................................... 29
5.1 Simpulan ........................................................................................... 29
5.2 Saran.................................................................................................. 29
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................. 30
LAMPIRAN ............................................................................................... 32
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Tayangan-tayangan Televisi Saat Ini................................................. 19
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Responden Siswa MA Nahdlotussibyan...................................... 15
Tabel 2. Data Responden Orang Tua Siswa MA Nahdlotussibyan.................... 16
Tabel 3. Penyebab Orang Tua menjadi Orang Tua Tunggal dan Lama Menjadi
Orang Tua Tunggal 16
Tabel 4. Keakraban Orang Tua dengan Anak..................................................... 16
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Pedoman Wawancara dengan Orang Tua........................................ 32
Lampiran 2. Pedoman Wawancara dengan Anak............................................... 33
Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian.................................................................. 34
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang Masalah
Televisi atau yang biasa disebut
TV merupakan salah satu alat elektronik yang berkembang saat ini, dari mulai
yang bentuknya masih sangat sederhana hingga berbentuk minimalis dan canggih.
Tayangan televisi yang ditayangkan cukup beragam dari mulai acara berita, talk show, film, kartun, iklan, sejarah,
keagamaan, pendidikan, dan hiburan. Di era globalisasi ini banyak alat-alat
elektronik dan media sosial yang lebih
canggih seperti gadget, internet,
laptop dan lain-lain yang dapat memberikan informasi lebih cepat dan lengkap,
namun demikian kehadiran televisi tidak dapat hilang dari kehidupan masyarakat.
Televisi sebagai media massa elektronik
mempunyai daya tarik yang kuat karena keunggulan –
keunggulan yang dimilikinya dibandingkan dengan media massa lainnya seperti
radio, surat kabar dan majalah. Media massa satu ini benar-benar bisa menyihir
siapapun yang ada dalam jarak pandang. Suguhan gambar yang bergerak-gerak penuh
warna, aktualitas informasi dan siarannya disajikan secara audio visual menjadi
daya tarik media ini.
Perkembangan dunia pertelevisian di
Indonesia, dewasa ini telah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Hal ini
dibuktikan dengan semakin banyak munculnya stasiun televisi swasta. Kehadiran
stasiun televisi swasta ikut meramaikan siaran televisi Indonesia, sekaligus
memberikan peluang bagi pemirsa televisi untuk memilih stasiun televisi dengan
berbagai acara dan program-program yang disajikan oleh masing-masing stasiun televisi tersebut.
Sementara itu, di antara stasiun televisi terjadi persaingan untuk menarik
perhatian pemirsa. Terutama televisi swasta, yang demi meningkatkan rating,
berupaya menarik perhatian dan minat penonton sebanyak mungkin. Stasiun televisi swasta menayangkan program-program
yang lebih atraktif dengan konsep yang berbeda dari stasiun lainnya dan
menayangkannya dalam waktu tayang yang terjangkau oleh semua orang. Kondisi
siaran televisi yang lebih mengutamakan unsur hiburan ini, telah memicu para
insan televisi untuk menyajikan acara-acara yang mampu menarik minat
pemirsanya. Para pengelola televisi berlomba untuk menghadirkan tayangan-tayangan
yang lebih mengedepankan unsur hiburan namun kurang memperhatikan unsur
edukatifnya (Nabiu, 2013).
Berdasarkan data
statistik Badan Pusat Statistik menyatakan bahwa persentase penduduk berumur 10
tahun ke atas yang menonton televisi mulai pada tahun 2003, 2006, 2009, dan
2012 mengalami peningkatan. Pada tahun 2003, persentase penduduk berumur 10
tahun ke atas yang menonton televisi sebanyak 84.94%, pada tahun 2006 sebesar
85.86%, pada tahun 2009 sebesar 90.27%, sedangkan pada tahun 2012 sebesar
91.68%.
Hampir semua kalangan
menyukai tayangan-tayangan televisi, mulai anak-anak, remaja, dewasa, bahkan
orang tua. Dari berbagai macam tayangan televisi, terdapat pengaruh-pengaruh
yang dapat ditimbulkan khususnya bagi perkembangan psikologis anak. Tayangan
televisi seperti berita, acara pendidikan dan acara yang bernuansa agama sangat
berpengaruh positif bagi perkembangan anak. Selain itu, tayangan televisi memiliki pengaruh negatif seperti kekerasan,
pornografi, dan tindakan asusila.
Perkembangan stasiun
televisi yang ada di Indonesia saat ini begitu pesat jika dibandingkan dengan
di zaman orang tua. Televisi menyajikan berbagai macam acara yang lebih
mengutamakan hiburan, hal ini tentunya akan membawa konsekuensi yang semakin
berat bagi orang tua. Oleh karena itu, orang
tua seharusnya mulai mengarahkan anak-anaknya dalam memanfaatkan hasil
teknologi tersebut ke arah yang positif. Kondisi ini memicu para orang tua
untuk lebih selektif dan lebih berkomunikasi dengan anak-anaknya untuk
menyaksikan tayangan yang patut dinikmati dan menghindari acara yang seharusnya
tidak diperkenankan untuk dilihat oleh anak.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pandiya (2008) terhadap 120
orang remaja Semarang yang terdiri 40 orang pelajar SLTP, 40 orang pelajar
SLTA, dan 40 orang mahasiswa diperoleh data bahwa program televisi favorit Remaja Kota Semarang meliputi:
olah raga sebesar 21,7%, musik sebesar 15,8 %, film
luar negeri/film asing sebesar 14,2 %, dan petualangan 8,3%. Selain itu
persentase mengenai motif menonton program
televisi remaja di kota Semarang meliputi: kebutuhan akan hiburan sebesar
30,8%, kebutuhan akan informasi sebesar 28,3%, kebutuhan akan ilmu pengetahuan sebesar 27,5%, kebutuhan akan pengalaman baru
sebesar 9,2%, kebutuhan akan materi sebesar
3,3%, dan mengisi waktu luang sebesar 0,8%. Data lain yang diperoleh adalah
persentase mengenai dampak negatif program televisi yang paling dirasakan oleh
remaja di kota Semarang adalah bahaya radiasi sebesar 24,2%, sebesar
kecanduan/ketagihan 21,7%, dan pornografi serta pornoaksi sebesar 13,3%.
Penelitian
mengenai dampak televisi juga dilakukan oleh Zahro (2013) yang melakukan penelitian
mengenai dampak televisi terhadap perilaku anak sekolah di MTs Muhammadiyah
Al-Manar, Wedung, Demak. Berdasarkan hasil penelitian menyatakan bahwa tayangan
televisi memberikan dampak positif dan negatif terhadap perilaku anak. Dampak
positif televisi terhadap perilaku anak adalah dapat memberikan rasa semangat
untuk belajar dan menjadi orang sukses ketika melihat tayangan telivisi yang
bernuansa pendidikan. Akan tetapi televisi juga memiliki dampak negatif yaitu
menyebabkan anak menjadi malas belajar dan sering bertengkar dengan keluarga.
Tayangan televisi yang
tidak mendidik akan mempengaruhi pola perilaku anak. Hal ini menjadi sangat
ironis ketika anak lebih suka berlama-lama di depan televisi, bahkan hampir
lupa akan waktu makannya. Hal ini merupakan problematika yang terjadi di lingkungan
kita sekarang ini, dan memerlukan perhatian khusus bagi orang tua untuk selalu
mengawasi aktivitas anak di rumah, dan untuk para pendidik di sekolah,
hendaknya memberikan perhatian dan pengertian akan bahayanya menonton tayangan
televisi terlalu lama. Hal ini dikarenakan tayangan televisi akan mempengaruhi
tingkah laku anak baik di rumah maupun di sekolah (Aryanty, 2010).
Permasalahan yang
dihadapi oleh orang tua zaman sekarang memang jauh berbeda jika dibandingkan
dengan pada masa lalu. Hal ini terjadi karena pada zaman dahulu lembaga
keluarga memungkinkan orang tua (terutama ibu dengan sepenuhnya menjadi ibu
rumah tangga) untuk dekat dengan anak, akan tetapi sejalan dengan tuntutan
keadaan yang mengkondisikan wanita berpeluang meniti karir, peran ganda wanita
tentu tidak mudah dilakukan secara sempurna. Oleh karena itu, pada saat ini peran
ayah yang diperlukan untuk memiliki tanggung jawab pendidikan terhadap anak,
sehingga tidak hanya di pundak ibu saja.
Keluarga sebagai bagian
masyarakat yang terkecil merupakan inti terciptanya masyarakat yang lebih luas,
sehingga kedudukan keluarga menentukan
bentuk dan corak masyarakat di masa
mendatang. Dalam keluarga selayaknya
tercipta harmoni yang menenangkan semua penghuninya serta dapat memberi
bekal psikis yang akan terbawa oleh anggota-anggotanya (Malikhah, 2013).
Peranan orang tua
sangat penting untuk membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi.
Orang tua merupakan sahabat terdekat anak ketika di rumah, dan segala sesuatu
yang dilakukan oleh anak merupakan tanggung jawab orang tua. Orang tua akan
selalu memberi yang terbaik untuk anaknya di masa depannya kelak. Orang tua
memiliki cara yang berbeda-beda dalam membimbing putra putrinya, baik cara yang
dilakukan oleh ayah ataupun ibu. Hal ini tentunya akan teras sulit ketika anak
tidak mempunyai keluarga atau orang tua yang utuh. Dengan kata lain, anak yang
hanya hanya mempunyai orang tua tunggal (single
parent). Proses pembimbingan akan terasa berat dikarenakan orang tua akan
bekerja sendirian dalam memenuhi semua kebutuhan dan mendidik anak-anaknya.
Melalui kewajibannya
sebagai orang tua, seorang ayah atau ibu akan sekuat tenaga memberikan dan
memenuhi semua kebutuhan anak. Selain mencari nafkah, orang tua juga memiliki
kewajiban untuk memenuhi kebutuhan fisik (memberikan pakaian, memberikan tempat
tinggal, merawat ketika sakit, dan sebagainya), ataupun kebutuhan nonfisik
(mengarahkan, membimbing, dan mendidik anak menjadi anak yang berbakti, mandiri,
serta bertakwa kepada Tuhan).
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan, penulis tertarik untuk melakukan
penelitian dengan judul, “Peranan Orang
Tua Tunggal Dalam Membentengi Anak Dari Pengaruh Negatif Tayangan Televisi (Studi Kasus di MA Nahdlotussibyan
Karanganyar Demak)”.
1.2.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka
dapat ditarik suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1.
Apa saja
pengaruh negatif dari tayangan televisi terhadap anak di MA Nahdlotussibyan
Karanganyar Demak?
2.
Bagaimana cara
orang tua tunggal dalam membentengi anaknya dari pengaruh negatif tayangan televisi
di MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak?
1.3.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, penulisan
karya tulis ini bertujuan untuk:
1.
Mengetahui
pengaruh negatif dari tayangan televisi yang dirasakan oleh anak di MA
Nahdlotussibyan Karanganyar Demak.
2.
Mengetahui cara
orang tua tunggal dalam membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi
di MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak.
1.4.
Manfaat Penelitian
Penulisan
karya tulis ini, diharapkan dapat memberi manfaat antara lain:
1. Menambah
hasil penelitian tentang cara orang tua dalam membentengi anaknya dari pengaruh
negatif televisi.
2. Memperkaya
ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan tentang pentingnya peran orang tua
dalam membentengi anaknya dari pengaruh negatif televisi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Orang
Tua Tunggal
Secara psikologis, keluarga
merupakan sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal bersama dan
masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling
mempengaruhi, saling memperhatikan, dan saling menyerahkan diri. Sedangkan secara
pedagogis, keluarga adalah satu persekutuan hidup yang dijalin oleh kasih
sanyang antara pasangan dua jenis manusia yang dikukuhkan dengan pernikahan,
yang bertujuan untuk menyempurnakan diri (Sochib, 1998).
Keutuhan orang tua
(ayah dan ibu) dalam sebuah keluarga sangat dibutuhkan dalam membantu anak
untuk memiliki dan mengembangkan potensi diri. Keluarga yang utuh memberikan
peluang besar bagi anak untuk membangun kepercayaan terhadap kedua orang
tuanya, yang merupakan unsur esensial dalam membantu anak untuk memiliki dan
mengembangkan potensi dirinya.
Perceraian ataupun
kematian dari salah satu orang tua menyebabkan struktur keluarga berubah
menjadi tidak lengkap dengan hilangnya salah satu figur orang tua. Bersamaan
dengan fenomena ini istilah single parent
atau orang tua tunggal menjadi populer di kalangan masyarakat.
Secara terminologi,
orang tua tunggal atau sering disebut dengan istilah single parents merupakan suatu keadaan keluarga dimana
tanggungjawab pemeliharaan keluarga hanya dipegang oleh satu orang, baik ayah
ataupun ibu (Supidin, 2008). Beberapa pengertian orangtua tunggal menurut
beberapa ahli adalah sebagai berikut:
a. Irene
Goldenberg dan Herbert Goldenberg menyatakan bahwa orang tua tunggal adalah
orang tua yang memiliki tanggung jawab keluarga yang dipikul oleh satu orang
tua saja (ayah atau ibu), yang mungkin disebabkan oleh perceraian, kematian,
ditinggalkan, ataupun tidak pernah menikah.
b. Newman
menyatakan bahwa keluarga single parent adalah
keluarga yang didalam struktur keluarga hanya terdapat satu oangtua saja, baik
ayah maupun ibu saja yang dikarenakan oleh kematian, perceraian ataupun status
perkawinan yang tidak jelas atau dapat juga seorang bujangan yang mengadopsi
anak.
c. Haffman
menyatakan bahwa single parent adalah
orang tua yang merangkap ayah sekaligus ibu atau sebaliknya , dalam membesarkan
dan mendidik anak serta mengatur kehidupan keluarga karena perubahan dalam
struktur keluarga akibat perceraian,ditinggalkan pasangan hidup atau kematian.
d. Perimutter
dan Hall menyatakan bahwa single parent adalah
orangtua yang tanpa pasangan yang menghabiskan waktu atau seluruh hidupnya
untuk merawat anak sendiriaan. Hal ini diakibatkan oleh beberapa factor seperti
perceraian tidak menikah atau membujang karena mengadopsi anak atau karena pasangannya
meninggal.
e. Santrock
menyatakan bahwa ada dua macam single
parent yaitu: (1) single parent
mother yaitu ibu sebagai orangtua tunggal harus menggantikan peran
ayah sebagai kepala keluarga, pengambil keputusan, pencari nafkah di samping
perannya mengurus rumah tangga, membesarkan, membimbing dan memenuhi kebutuhan
psikis anak. (2) single parent
father yaitu ayah sebagai orangtua
tunggal harus menggantikan peran ibu sebagai ibu rumah tangga yang mengerjakan
pekerjaan ibu rumah tangga, selain kewajiban sebagai kepala rumah tangga.
Berdasarkan
definisi-definisi tersebut, dapat ditarik batasan bahwasanya yang disebut orang
tua tunggal adalah orang tua yang dalam pemeliharaan anak akan bertambah berat
karena selain harus mencari nafkah bagi anak-anaknya, orang tua tunggal juga
harus mengurus dan selalu berkomunikasi dan memberikan pendidikan kepada
anak-anaknya terutama adalah pendidikan agama agar mereka menjadi anak yang
berguna, berbakti kepada orang tua dan paling utama adalah mempunyai akhlak yang
terpuji dan bertakwa kepada Tuhan YME.
Berdasarkan data dari
Census Bureau tahun 2007 di Amerika Serikat, 83% orangtua tunggal adalah
wanita. Data Badan Pusat Statistik tahun
2011 mencatat 8.926.387 wanita yang menjadi orang tua tunggal di Indonesia (Faradina
dan Fajrianthi, 2011). Pada tahun 2013, data Badan Pusat Statistik menyatakan
bahwa penduduk Indonesia terdapat 13,40% cerai mati dan 69,16 % cerai hidup
untuk wanita, sedangkan 1,09% cerai mati dan 2,92% cerai hidup untuk laki-laki.
Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia ini, terdapat jumlah orang tua tunggal
yang cukup banyak, baik ibu tunggal ataupun ayah tunggal yang akan mengasuh
anak-anaknya.
Anak yang diasuh oleh
ibu tunggal akan kehilangan figur seorang ayah, mengakibatkan anak kehilangan
tokoh identifikasi. Tokoh tempat anak belajar bertingkah laku menjadi
berkurang. Figur ayah memberikan perlindungan, rasa aman dan kebanggaan pada
diri anak. Ketegasan seorang ayah memberikan pengaruh kuat dalam menanamkan
disiplin dan kepercayaan diri anak. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak
penting karena mempengaruhi perkembangan sosial anak. Anak-anak yang
mendapatkan kehangatan dari ayah sewaktu kanak-kanak cenderung mempunyai
hubungan sosial yang lebih baik.
Begitu pula, anak yang
hanya diasuh oleh ayah tunggal akan kehilangan figur seorang ibu. Hal ini
mengakibatkan anak kehilangan kasih sayang, ketenangan, dan rasa nyaman yang di
dapat dari figur seorang ibu. Kelembutan seorang ibu memberikan pengaruh kuat
dalam proses perkembangan anak yang akan
mengalami berbagai perubahan sepanjang hidupnya (Putri, 2013).
2.2. Anak dan
Televisi
Televisi merupakan
gabungan dari media dengar dan gambar, yang dapat bersifat informatif, hiburan,
ataupun pendidikan, bahkan gabungan dari ketiga unsur tersebut. Televisi merupakan
sumber citra dan pesan tersebar (shared
images and massage) yang sangat besar dalam sejarah, dan ini telah menjadi mainstream bagi lingkungan simbolik
masyarakat (Syahputra dalam Zahro, 2013).
Setiap harinya, televisi menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya
banyak dan jenisnya beragam. Pada dasarnya apa saja yang dapat dijadikan
sebagai program, yang terpenting adalah disukai oleh penonton, tidak
bertentangan dengan norma kesusilaan, hukum dan peraturan yang berlaku. Di dunia
pertelevisian, program merupakan unsur yang sangat penting, karena program yang
disiarkan memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat. Untuk itulah bagian
program merupakan tulang punggung dari suatu stasiun televisi yang mempunyai tugas
harus merencanakan program dengan matang, karena apapun yang disiarkan oleh
bidang program ditujukan kepada pemirsanya. Oleh sebab itu wajar apabila
disebutkan broadcasting is planning atau television is planning, karena
semua acara yang disiarkan oleh stasiun televisi merupakan acara yang telah
direncanakan sebelumnya dan jarang sekali terjadi acara yang secara tiba-tiba dilakukan
pembuatan acaranya (Nabiu, 2013).
Secara garis besar, program televisi dapat dikelompokkan berdasarkan
jenisnya menjadi dua bagian, yaitu program informasi dan program hiburan.
Sementara itu, jika dilihat dari sifatnya maka dapat diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu program faktual (meliputi program berita, reality show dan
documenter) dan program fiksi (fictional, meliputi komedi dan program
drama) (Morrisan dalam Nabiu, 2013).
Televisi
telah menjadi bagian penting bagi anak-anak. Banyak waktu yang digunakan anak
untuk menonton tayangan televisi. Menurut penelitian Yayasan Pengembangan Media
Anak (YPMA) tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah jam menonton TV anak usia
sekolah dasar berkisar antara 30-35 jam
seminggu, atau lebih kurang 1.500 jam setahun. Jumlah ini bahkan lebih besar dibandingkan dengan waktu anak
belajar di bangku SD negeri selama setahun yang hanya sekitar 750 jam (Oktiani et al, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa
pada umumnya anak-anak menggunakan waktunya untuk menonton televisi lebih
banyak daripada untuk kegiatan belajar. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan
banyak pihak, seperti orang tua, guru, dan para pembuat kebijakan.
Kepopuleran
televisi ini disebabkan beberapa hal antara lain karena televisi adalah media
audio visual, tidak seperti radio yang hanya menampilkan siaran audio saja, ataupun media cetak yang
menampilkan informasi secara visual. Sifat televisi yang audio visual itulah
yang sangat menarik bagi anak. Selain itu, harga televisi pun terjangkau oleh
sebagian besar masyarakat. Posisi
televisi sebagai media yang paling populer di kalangan masyarakat sesungguhnya
memiliki memiliki arti strategis, karena televisi diharapkan dapat melakukan
fungsinya sebagai media informasi, edukasi, dan hiburan, yang dapat menjangkau
pemirsa yang luas hingga ke pelosok desa. Namun sebaliknya, banyaknya acara
televisi yang dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi pemirsanya, terutama anak-anak.
Tayangan
televisi bernuansa kekerasan memiliki dampak negatif terhadap anak. Hal ini
dapat dijumpai dalam tayangan film kartun terutama film kartun superhero
mengandung unsur kekerasan. Penelitian yang mengamati anak-anak yang menonton
film kartun, dan mengamati perilaku mereka di sekolah. Jika dibandingkan dengan
anak-anak yang tidak menonton film tersebut, maka perilaku anak-anak yang
menonton tayangan tersebut memiliki perilaku lebih agresif. Keadaan ini juga
terjdi pada anak-anak yang lebih dewasa. Pengaruh yang terjadi pada anak jika menonton tindakan
kekerasan di televisi adalah meningkatnya peniruan terhadap perilaku agresif,
menurunnya kemampuan pengendalian diri, serta lebih besarnya penerimaan
terhadap tindak kekerasan bagi orang lain di tengah-tengah kelompok atau
masyarakat. Semua pengaruh tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu lama
hingga seorang anak lulus sekolah menengah atas (Boeree, 2008).
Pada
umumnya anak-anak belum dapat memahami tayangan di televisi. Anak-anak belum memahami bahwa media,
termasuk televisi, menampilkan realitas yang dikonstruksikan kembali oleh
media. Mereka juga belum dapat memilah- milah sendiri tayangan yang mereka
lihat di televisi, dan membedakan mana tayangan yang boleh mereka tonton dan
yang tidak boleh ditonton. Dalam konteks kajian media, hal ini disebut sebagai
kemampuan media literacy (melek
media). Anak dan remaja dianggap sebagai konsumen media, yang dibuat sedemikian
rupa untuk selalu setia “menyantap” hidangan tontonan televisi dengan segala format
dan isinya, yang tidak jarang dapat berpengaruh negatif pada anak-anak yang
berlatar belakang khalayak media dengan daya selektivitas pesan yang rendah.
Televisi seringkali menyuguhkan tayangan-tayangan dengan format yang disukai
oleh anak, tetapi isinya tidak bermanfaat dan tidak dibutuhkan oleh anak dalam
membantu untuk mengembangkan dirinya.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1. Pendekatan
Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah penelitian
kualitatif. Peneliti menggunakan metode
kualitatif karena peneliti ingin
mendapat gambaran yang menyeluruh dan mendalam mengenai peranan orang tua
tunggal dalam membentengi anak dari dampak negatif tayangan televisi. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Hal ini dikarenakan data yang dianalisis tidak untuk
menerima atau menolak hipotesis, melainkan hasil analisis berupa deskripsi dari
gejala-gejala yang diamati (Subana dan Sudrajat, 2005).
Pendekatan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah jenis
pendekatan studi kasus. Penelitian studi kasus adalah penelitian yang dilakukan
secara mendalam mengenai kasus tertentu yang hasilnya merupakan gambaran
lengkap dan terorganisasi (Narbuko dan Achmadi, 2013).
3.2. Populasi dan
Sampel Penelitian
Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak yang
diasuh orang tua tunggal karena kematian, baik seorang ayah maupun ibu.
Berdasarkan studi pendahuluan, diperoleh data dari MA Nahdlotussibyan, bahwa
terdapat 20 siswa yang memiliki orang tua tunggal. Dalam pemilihan sampel,
penulis menggunakan sampel purposif
yaitu teknik pemilihan dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2005). Sampel
yang secara sengaja dipilih oleh penulis karena sampel dianggap memenuhi tujuan
yang dapat memperkaya data penelitian. Pengambilan sampel diambil dari kelas X
sampai XII baik laki-laki maupun perempuan, baik orang tua tunggal seorang ayah
maupun orang tua tunggal seorang ibu. Penulis mengambil sampel 12 anak dengan
rincian 4 anak dari kelas X, 4 anak dari
kelas XI, dan 4 anak dari kelas XII. Selain itu, peneliti mengambil sampel 6
orang tua tunggal, dengan rincian 3 orang tua tunggal seorang ayah dan 3 orang
tua tunggal seorang ibu.
3.3. Metode
Pengambilan Data
Metode pengambilan data yang digunakan peneliti
dalam penelitian ini adalah pengamatan dan wawancara. Pengamatan (observasi)
dimaksudkan untuk memperoleh data atau informasi mengenai peran orang tua
tunggal membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi. Melalui
pengamatan secara langsung di lapangan, seorang peneliti diharuskan melakukan
tindakan pengamatan terhadap tindakan dan perilaku responden di lapangan dan
kemudian mencatat atau merekamnya sebagai material utama untuk dianalisis. Adapun prosedur observasi yang dilakukan
adalah dengan mengamati aktifitas secara umum bagaimana cara orang tua
membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi.
Metode pengambilan data selanjutnya adalah wawancara. Wawancara merupakan
proses tanya jawab untuk mendapatkan keterangan secara lisan dari seorang responden.
Wawancara harus dilaksanakan secara efektif, artinya dalam waktu
sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data sebanyak-banyaknya (Arikunto, 2006).
Wawancara dilakukan terhadap orang tua tunggal dan anak. Hal ini dimaksudkan
untuk memperoleh data atau informasi secara jelas mengenai peranan orang tua
tunggal dalam membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi. Wawancara ini dilakukan dengan cara sistematik
berdasarkan tujuan penelitian. Melalui wawancara ini, akan diperoleh informasi
yang dapat diambil sebagai bahan penulisan berdasarkan fakta yang ada,
wawancara ini dilakukan dengan suasana yang bersahabat dengan anak dan orang
tua tunggal. Adapun pertanyaan yang diajukan mengenai tentang kehidupan anak
dengan televisi dan mengenai cara yang dilakukan orang tua tunggal dalam
membentengi pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anaknya. Oleh karena
itu dalam pelaksanaan wawancara diperlukan adanya persiapan dan usaha yang
matang dalam penyusunan pertanyaan dan pelaksanaanya, sehingga wawancara dapat
berjalan secara sistematis dan sesuai tujuan penelitian.
Data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer
bersumber dari responden melalui proses wawancara. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari berbagai dokumen yang berhubungan dengan penelitian.
3.4. Metode Analisis
Data
Setelah hasil
penelitian dapat diperoleh, diolah, maka langkah selanjutnya adalah
menganalisisnya. Maksudnya adalah penulis menganalisis persoalan-persoalan apa
saja yang ditemukan selama penelitian dan mengelompokkan hasil sesuai dengan
permasalahan yang diangkat, sehingga diperoleh data yang mempermudah penulis
dalam penyusunan.
Analisis data dalam
penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, selama di
lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Analisis data sebelum penelitian
dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan
digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Pada saat selama penelitian, analisis
data dilakukan pada saat wawancara. Peneliti melakukan analisis terhadap
jawaban yang diwawancarai. Jika jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis
terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai
diperleh data yang dianggap kredibel (Sugiyono, 2008).
BAB IV
PELAKSANAAN
DAN HASIL PENELITIAN
4.1. Orientasi dan
Kancah Penelitian
Orientasi kancah
penelitian dilakukan dengan melakukan studi pendahuluan ke lokasi penelitian,
yaitu MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak, serta mengumpulkan data untuk
mendapatkan informasi yang diperlukan dalam penelitian. MA Nahdlotussibyan
Karanganyar Demak merupakan MA swasta di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam
Nahdlotussibyan. MA Nahdlotussibyan terdapat 3 kelas untuk kelas X (X IPA, X
IPS 1, X IPS 2), 3 kelas untuk kelas XI (XI IPA , XI IPS 1, XI IPS 2), dan 2
kelas untuk kelas XII IPA (XII IPA dan XII IPS).
Berdasarkan studi
pendahuluan diperoleh data bahwa terdapat beberapa siswa yang memiliki orang
tua tunggal. Selain itu siswa-siswa yang memiliki orang tunggal tersebut
menyukai tayangan televisi tertentu. Tayangan televisi tersebut memberikan
pengaruh baik pengaruh positif ataupun pengaruh negatif terhadap anak.
Penelitian ini
dilaksanakan di MA Nahdlotussibyan Karanganyar Demak dengan
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
a. Ciri-ciri
subyek yang diteliti memenuhi syarat-syarat tercapainya tujuan penelitian.
b. Belum
pernah diadakan penelitian tentang peranan orang tua tunggal dalam membentengi
anak dari pengaruh negatif tayangan televisi pada siswa MA.
c. Lokasi
penelitian mudah dijangkau oleh peneliti sehingga mempermudah pelaksanaan
penelitian.
d. Peneliti
mendapat izin dari MA Nahdlotussibyan untuk melaksanakan penelitian.
4.2. Pelaksaaan
Penelitian
Lokasi penelitian ini
dilakukan di MA Nahdlotussibyan Wonoketingal Kecamatan Karanganyar Demak. MA
Nahdlotussibyan berlokasi di jalan Kiwiroleksono No.53 Wonoketingal Karanganyar
Demak. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 2 Januari 2015 sampai dengan 8
Februari 2015. Penelitian ini diawali dengan studi pendahuluan yang
dilaksanakan mulai tanggal 2 Januari 2015 hingga 6 Januari 2015. Sedangkan pelaksanaan
penelitian dilaksanakan mulai tanggal 7 Januari 2015 hingga 31 Januari 2015.
Setelah pelaksanaan penelitian, peneliti melaksanakan penganalisisan data
penelitian dan penyusunan hasil penelitian mulai tanggal 1 Februari 2015 hingga
10 Februari 2015.
4.3. Hasil Penelitian
4.3.1.
Gambaran Umum Responden
Berdasarkan studi
pendahuluan, peneliti mengambil 12 responden yang berasal dari siswa dan 6 responden
yang berasal dari orang tua siswa. Data dari responden siswa dapat dilihat pada
Tabel 1 dan data responden orang tua dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel
1. Data Responden Siswa MA Nahdlotussibyan
|
No.
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
Kelas
|
|
1.
|
Muhammad
Nafian
|
L
|
X
IPS 2
|
|
2.
|
Murni
|
P
|
X
IPA
|
|
3.
|
Siti
Anisatun
|
P
|
X
IPS 2
|
|
4.
|
Shifatur
Rohmah
|
P
|
X
IPA
|
|
5.
|
Khomsi
Hidayah
|
P
|
XI
IPA
|
|
6.
|
Indah
Fitriah
|
P
|
XI
IPS 2
|
|
7.
|
Sutinah
|
P
|
XI
IPA
|
|
8.
|
Zairotus
Sholikhah
|
P
|
XI
IPA
|
|
9.
|
Ahmad
Zainal Khasan
|
L
|
XII
IPS
|
|
10.
|
Anik
Mirawati
|
P
|
XII
IPA
|
|
11.
|
Lailin
Wahyuni
|
P
|
XII
IPA
|
|
12.
|
Misbakhul
Lail
|
L
|
XII
IPA
|
Tabel
2. Data Responden Orang Tua Siswa MA Nahdlotussibyan
|
No.
|
Nama
|
Jenis Kelamin
|
Orang Tua Dari
|
Alamat
|
|
1.
|
Sujari
|
L
|
Lailin Wahyuni
|
Wonoketingal RT
01/RW 04
|
|
2.
|
Sarman
|
L
|
Sutinah dan
Muhammad Nafian
|
Wonosari RT 05/
RW 04
|
|
3.
|
Jumadi
|
L
|
Siti Anisatun
|
Wonoketingal RT
02/RW 05
|
|
4.
|
Muarifah
|
P
|
Indah Fitriah
|
Wonoketingal
RT 01/01
|
|
5.
|
Siti Rukmi
|
P
|
Zairotus
Sholikhah
|
Wonoketingal
RT 03/06
|
|
6.
|
Siti Aminah
|
P
|
Ahmad Zaenal
Khasan dan Shifatur Rohmah
|
Wonoketingal
RT 05/05
|
4.3.2.Hasil
Wawancara dengan Orang Tua
Berdasarkan hasil
wawancara dapat diperoleh informasi mengenai penyebab menjadi orang tua
tunggal, lama menjadi orang tua tunggal, keakraban orang tua tunggal, pendapat
orang tua mengenai tayangan televisi, dan cara orang tua untuk membentengi anak
dari pengaruh negatif tayangan televisi. Data mengenai penyebab orang tua
menjadi orang tua tunggal dan lama menjadi orang tua tunggal dapat dilihat pada
Tabel 3, sedangkan keakraban orang tua dengan anak dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 3.
Penyebab Orang Tua menjadi Orang Tua Tunggal dan Lama Menjadi Orang Tua Tunggal
|
No.
|
Nama
|
Penyebab Menjadi Orang Tua Tunggal
|
Lama Menjadi Orang Tua Tunggal
|
|
1.
|
Sujari
|
Kematian
|
< 1 tahun
|
|
2.
|
Sarman
|
Kematian
|
5 tahun
|
|
3.
|
Jumadi
|
Kematian
|
< 1 tahun
|
|
4.
|
Muarifah
|
Kematian
|
8 tahun
|
|
5.
|
Siti Rukmi
|
Kematian
|
11 tahun
|
|
6.
|
Siti Aminah
|
Kematian
|
< 1 tahun
|
Tabel
4. Keakraban Orang Tua dengan Anak
|
No.
|
Nama
|
Kategori
|
|
1.
|
Sujari
|
Sangat akrab
|
|
2.
|
Sarman
|
Akrab
|
|
3.
|
Jumadi
|
Sangat akrab
|
|
4.
|
Muarifah
|
Akrab
|
|
5.
|
Siti Rukmi
|
Akrab
|
|
6.
|
Siti Aminah
|
Akrab
|
Menurut pendapat orang
tua mengenai tayangan televisi saat ini cukup beragam. Orang tua menyatakan
bahwa tayangan televisi saat ini berupa hiburan, pembelajaran, tetapi ada juga
sinetron-sinetron yang berisi cerita anak remaja yang berpacaran yang akan berdampak
negatif terhadap anak.
Adapun cara orang tua
dalam membentengi anak dari pengaruh negatif tayangan televisi antara lain
dengan cara menasehati, seperti yang diutarakan oleh Jumadi yang menyatakan: “Ya
dengan menasehatinya, biasanya saya suruh belajar”. Selain itu cara lain yang
dilakukan orang tua adalah dengan membatasi dan mencegah anak melihat tayangan
yang dianggap tidak baik dengan cara melakukan pendampingan dan mengatur jadwal
menonton televisi, seperti yang diutarakan oleh Siti Aminah, yang menyatakan:
“Saya
cegah kalo nonton yang pacar-pacaran, pokoknya setelah habis Isya` baru boleh
nonton TV”.
Begitu pula yang
diutarakan oleh Muarifah yang menyatakan:
“Saya
mengawasi dia kalau nonton TV, jadi kalau sudah sulit dikasih tahu TV-nya saya
matikan ”.
Hal yang sama
dinyatakan oleh Sarman yang menyatakan:
“Saya
suruh nonton yang baik-baik saja dan kalau nonton bersama-sama ”.
Selain itu, Siti Rukmi
juga menyatakan:
“Saya
mengajari yang baik-baik, anaknya diberi saran yang agar tidak nonton yang
jelek-jelek”.
Berbeda pula dengan
Sujari yang menyatakan:
“Anak
saya nonton TV-nya hanya lihat-lihat sebentar saja, nontonnya bareng-bareng
sama kakaknya”.
4.3.3.Hasil
Wawancara dengan Anak
Televisi dengan
berbagai acara yang ditayangkannya telah mampu menarik minat pemirsanya, dan
membuat para penontonnya ketagihan untuk selalu menyaksikan acara-acara yang
ditayangkan. Bukan hanya orang dewasa saja, bahkan bagi anak anak pun menonton
televisi sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas
kesehariannya.
Berdasarkan hasil
wawancara, diperoleh informasi mengenai frekuensi anak menonton televisi setiap
harinya adalah 1 kali sehari, 2 kali sehari, dan 3 kali sehari, dengan durasi 1 hingga 3 jam.
Sedangkan jenis tayangan televisi yang ditonton oleh anak di antaranya adalah
acara entertainment seperi D`Terong
Show, sinetron seperti 7 Manusia Harimau, Ganteng-ganteng Serigala, dan Tukang
Bubur Naik Haji, film kartun seperti Upin-Ipin, film luar negeri seperti
Spiderman dan serial korea, acara motivasi seperti Mario Teguh Golden Ways, acara
informasi seperti On The Spot, dan acara olahraga seperti siaran pertandingan
sepak bola. Alasan anak menonton televisi pun juga beragam, di antaranya karena
alasan hiburan, menambah wawasan dan untuk memperoleh inspirasi.
Pengaruh negatif tayangan
televisi terhadap anak adalah menyebabkan malas belajar, menyebabkan perebutan
tayangan televisi dengan saudara, dan menyebabkan kecanduan untuk melihat
tayangan televisi. Sedangkan, cara orang tua untuk mengatasi masalah tersebut,
di antaranya: memberikan nasihat seperti memperbolehkan menonton televisi
tetapi harus diimbangi dengan belajar, menonton televisi secara bersama-sama,
dan mengatur jadwal menonton televisi.
4.4. Pembahasan
4.4.1.
Dampak Tayangan Televisi
Televisi merupakan
salah satu media massa yang memiliki kelebihan tersendiri yaitu dapat
menampilkan gambar dan suara secara bersamaan baik berupa hiburan, berita, talk show, pendidikan bahkan gabungan
dari keempat unsur tersebut. Keberadaan televisi pada beberapa puluhan tahun
yang lalu merupakan barang yang hanya
dimilki oleh masyarakat menengah ke atas saja. Namun, seiring perkembangan
zaman, sekarang ini hampir seluruh rumah memiliki televisi bahkan setiap rumah
tidak jarang memiliki lebih dari satu televisi. Sekarang ini, keberadaan televisi
hadir dengan berbagai bentuk dan kecanggihannya. Televisi sudah menjadi suatu
yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia walaupun keadaannya bersaing dengan
media massa yang lebih canggih lainnya. Tayangan televisi yang beragam mengakibatkan
televisi semakin disukai oleh berbagai kalangan usia, apapun jenis profesi dan
jabatan seseorang. Beberapa tayangan televisi saat ini dapat dilihat pada
Gambar 1.

Gambar 1.
Tayangan Televisi Saat Ini
(sumber: http://www.google.com)
Televisi dapat menjadi
sahabat keluarga yang berguna dalam memberikan atau menyajikan setiap program
acaranya yang dapat memberikan hiburan, pengetahuan, ketrampilan yang memang
sesuai dengan kebutuhan setiap individu dalam keluarga tersebut. Keadaan ini
dapat tercapai apabila masing-masing individu bersikap bijak dalam
penggunaannya.
Media televisi juga
menyediakan berbagai macam informasi dan kebutuhan manusia. Kemampuan televisi
dalam menarik perhatian pemirsa sangatlah kuat karena televisi sering memberi
informasi tentang hal-hal yang menarik yang belum banyak diketahui oleh
masyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika seseorang semakin
terdorong untuk mendapatkan informasi yang belum diketahui melalui televisi. Begitu
juga, kehadiran televisi yang menarik perhatian
anak-anak. Tayangan televisi yang beragam berpengaruh terhadap
perkembangan psikologsi anak. Oleh karena itu, peran orang tua yang aktif diperlukan
dalam membimbing dan mengarahkan anak–anaknya dalam menonton tayangan televisi,
sehingga dampak yang disebabkan oleh televisi tidaklah sampai merusak kepribadian
anak.
Menurut
Kuswandi dalam Zahro (2013) menyatakan bahwa ada dua pengaruh yang ditimbulkan
dari tayangan televisi. Pengaruh pertama adalah informatif, yaitu kemampuan
seseorang atau pemirsa untuk menyerap dan memahami acara yang ditayangkan
televisi dan melahirkan pengetahuan bagi pemirsa. Sedangkan pengaruh kedua
adalah peniruan, yaitu pemirsa yang dihadapkan pada tren aktual yang
ditayangkan televisi. Selain itu, hasil penelitian Pandiya (2008) menyatakan
bahwa dampak negatif program televisi adalah bahaya radiasi, ketergantungan, dan prnografi serta
pornoaksi.
Berdasarkan hasil
penelitian di MA Nahdlotussibyan Wonoketingal Karanganyar Demak, diperoleh hasil bahwa anak mengisi waktu istirahat mereka dengan menonton
televisi misalnya setelah menyelesaikan tugas, setelah pulang sekolah, sehabis
belajar, ataupun setelah bangun tidur.
Seperti yang diungkapkan oleh Indah Fitriah seperti berikut:
“Kalau nonton TV
tiga kali.. Pagi kalau mau berangkat sekolah nonton gossip, hahaha… kalau
pulang sekolah setengah tiga sampai jam empat kadang setengah lima. Tapi
tergantung kalau lagi galau ya jam 4 bersih-bersih,, hehehe.. kalau malam
sampai jam 10 mulai ba’dal Isya’”
Hal
senada juga diakui oleh Khomsi Hidayah yang menyatakan sebagai berikut:
“Dua atau tiga
kali… Kalau pagi mulai jam 05.30-06.00, kalau siang setelah pulang sekolah
sampai jam 15.00 tapi jarang, kalau malam kalau mengaji tidak menonton TV tapi
kalau tidak mengaji biasanya mulai jam 19.00-20.00”
Kebiasaan menonton
televisi yang terlalu sering dapat membuat rasa ketergantungan terhadap televisi,
misalnya ketika seseorang menyukai sinetron tertentu maka akan menimbulkan rasa
penasaran terhadap sinetron tersebut, hal ini mengakibatkan seseorang memiliki
keinginan untuk menonton terus-menerus dan tidak ingin tertinggal jalan
ceritanya. Hal ini dapat memicu rasa ketergantungan terhadap televisi. Jika
anak tidak menonton, maka akan muncul rasa penasaran yang berkepanjangan dan sedapat
mungkin anak mencari episode yang tertinggal, dengan cara mencari tayangan
lanjutan melalui internet, youtube
atau lewat perbincangan dengan teman-temannya.
Selain itu, jika anak tidak dapat mengatur waktu dengan baik, maka ketergantungan ini akan menyita waktu.
Akibat yang dapat terjadi apabila anak terlalu menikmati apa yang ditonton adalah melupakan tugas-tugasnya yang seharusnya
dikerjakan di waktu tertentu, sehingga menimbulkan penyesalan dalam diri dan
menimbulkan kerugian selanjutnya seperti mendapat teguran dari guru, nilai
sekolah menurun, dan pemahaman terhadap pelajaran menjadi berkurang.
Berdasarkan hasil penelitian
diperoleh hasil bahwa, pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anak adalah
menyebabkan malas belajar, menyebabkan perebutan tayangan televisi dengan
saudara, dan menyebabkan kecanduan untuk melihat tayangan televisi. Hal ini
sesuai yang dirasakan oleh Muhammad Nafian yang menyatakan:
“Kalau sering
nonton TV menjadi ketagihan,dan malas belajar”.
Senada pula yang dinyatakan oleh Misbakhul
Lail:
“Kalo dampak
nonton TV itu ketergantungan, Jadi lupa belajar dan lupa untuk mengerjakan PR”.
Selain itu,
Sarman, seorang ayah tunggal menyatakan bahwa:
“kalo
pengaruhnya nonton TV itu kalo pada berebut remot sama adiknya”
Pemilihan tayangan
televisi berpengaruh terhadap jiwa psikologi pemirsanya. Pemilihan tayangan
televisi dapat mencerminkan diri seseorang. Anak-anak lebih suka menonton
kartun karena anak-anak lebih suka hiburan dan tayangan yang tidak terlalu
membebankan. Anak remaja lebih suka menonton sinetron dan acara talk show karena usia remaja adalah usia
yang suka akan hal-hal dramatis dan usia dimana dia ingin menggali lebih banyak wawasan dan
penasaran akan hal baru dan mencoba hal baru. Orang tua lebih suka acara
berita, namun banyak juga orang tua yang kurang begitu suka menonton televisi.
Tidak semua tayangan televisi dapat dianggap negatif karena tergantung
bagaimana seseorang dapat memilih mana yang baik dan mana yang kurang baik
untuk dirinya. Seperti tayangan yang menjadi favorit Khomsi Hidayah dengan
menyatakan:
“Saya
suka nonton Mario Teguh Golden Ways” di MetroTV, karena bisa mengambil
inspirasi dan motivasi juga, dan dapat mengambil tentang pendidikan”
Televisi bukan hanya
sebagai hiburan atau media informatif tapi juga untuk menghilangkan penat dan
lelah dari kegiatan sehari-hari. Itu artinya televisi juga memiliki sifat
positif bagi jiwa seseorang. Televisi dapat mempengaruhi jiwa seseorang melalui
tayangan yang disukai, seseorang dapat merasa lebih relax, fresh, dan merasa
lebih ringan terhadap beban hidupnya setelah menonton tayangan kesukaannya,
seperti yang diungkapkan Zairotus Sholikhah yang menyatakan:
“Ya gimana ya dengan menonton TV semua masalah menjadi ringan dan bisa di
selesaikan meskipun tidak semua, tapi semua tayangan pasti ada hikmahnya”.
Tayangan yang
ditampilkan media televisi saat ini, dapat dinikmati oleh masyarakat dengan
leluasa. Masyarakat dapat memilih tayangan televisi sesuai yang diinginkan.
Banyak tayangan yang memberi dampak positif kepada pemirsa, seperti tayangan
berita. Tayangan berita memberikan informasi yang aktual, dan faktual.
Informasi yang disampaikan mengenai keadaan yang sedang terjadi di masyarakat,
biasanya acara berita ini lebih digemari oleh orang tua, dan acara berita tidak
selalu ada setiap waktu, hanya ada di jam-jam tetentu biasanya jam pagi sekitar
jam 05.00-05.30 WIB, siang hari jam 12.00-12.30 WIB, sore hari jam 16.30-17.00
WIB, dan malam hari sekitar tengah malam. Jam-jam tersebut tidaklah menentu dan
berita sering ditayangkan live pada saat itu juga, berita juga
ditayangkan hanya beberapa menit dengan memotong suatu tayangan yang sedang
tayang. Kehadiran berita ini sangatlah baik karena pemirsa dapat mengetahui
informasi yang terjadi pada saat itu juga. Namun sayangnya anak-anak dan remaja
jarang yang menyukai karena dianggap membosankan dan kurang menarik.
Tayangan yang banyak
diminati remaja adalah acara sinetron mereka merasa sinetron sesuai dengan
kehidupan mereka yang dramatis, romantis, emosional, dan diperankan oleh artis
usia remaja. Tayangan sinetron banyak menampilkan tentang percintaan sehingga
mengurangi nilai moral, sinetron juga sudah termasuki budaya kebarat-baratan
yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Dampak televisi ini akan menyebabkan
dampak peniruan pada remaja generasi penerus bangsa. Hal ini dapat diperoleh
dari hasil wawancara dengan Sutinah yang menyatakan:
“Kalau pulang
dari sekolah itu serial korea yang ada di RCTI, kalau yang Isya’ itu “Tukang
Bubur Naik Haji”.
Begitu pula dengan Siti Anisatun yang
menyatakan:
“Tayangan yang
sering ditonton itu GGS (Ganteng-Ganteng Serigala), kalau siang ya SCTV (FTV)”
Sedangkan,
Ahmad Zaenal Khasan menyatakan:
“Nontonnya
biasanya ya “On The Spot”, “Spiderman”, “Hulk”, “Kungfu Panda”, “TBNH”, “7
Manusia Harimau”.
Tayangan
sinetron saat ini memiliki pengaruh negatif untuk anak-anak. Hal ini sesuai
dengan R. Koesmaryanto Oetomo
dalam Malikhah (2013) yang melakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Sinetron
di Televisi terhadap Anak, menyatakan bahwa: (1) judul-judul sinetron anak atau
remaja sering kali bertema vulgarisma, menantang, mengandung unsur pornografi,
(2) pemain sinetron dipilih dari remaja bahkan sebagian masih berusia anak-anak
(6-13 tahun), (3) peran yang dimainkan remaja dan anak-anak seringkali
bertabrakan dengan norma pergaulan masyarakat dan belum sesuai dengan tingkat
perkembangan psikologinya, serta
(4) banyak alur cerita sinetron yang
bersetting sekolah tetapi tidak sesuai dengan norma agama dan adat ketimuran
yang berlaku.
4.4.2.
Cara Orang Tua Tunggal dalam Membentengi Anak dari Dampak Negatif Tayangan
Televisi
Setiap keluarga memiliki aturan-aturan sistem keluarga yang berbeda-beda.
Aturan-aturan yang ada dalam sistem keluarga ialah aturan-aturan tentang siapa
dan bagaimana berpartisipasi dalam keluarga. Aturan-aturan di keluarga
bertujuan agar sistem keluarga berjalan dengan baik. Oleh karena itu, semua
anggota keluarga harus memahaminya. Aturan-aturan keluarga yang fleksibel
adalah baik karena prinsip aturan tidak akan hilang tetapi caranya disesuaikan
dengan keadaan. Keluarga yang utuh memiliki komponen-komponen di atas tersebut
sehingga komunikasi dan interaksi dalam keluarga akan berjalan dengan baik.
Keluarga yang tidak
utuh memiliki kesulitan dan berpengaruh bagi perkembangan anak. Dalam masa
perkembangan seorang anak membutuhkan suasana keluarga yang hangat dan penuh
kasih sayang. Di dalam keluarga yang tidak utuh kebutuhan ini tidak didapatkan
secara memuaskan. Anak yang diasuh oleh ibu tunggal kehilangan figur ayah dalam
keluarga. Hilangnya figur ayah akibat perceraian atau kematian mengakibatkan
anak kehilangan tokoh identifikasi. Tokoh tempat anak belajar bertingkah laku menjadi
berkurang.
Figur ayah memberikan
perlindungan, rasa aman dan kebanggaan pada diri anak. Ketegasan seorang ayah
memberikan pengaruh kuat dalam menanamkan disiplin dan kepercayaan diri
anak. Ibu yang berperan sebagai orang
tua tunggal dianggap memiliki keterbatasan dalam proses pembentukan kemandirian
anak. Ketidakhadiran figur ayah dalam keluarga membuat anak kurang disiplin dan
kurang memiliki kepercayaan diri. Ibu tunggal sering tidak konsisten dalam menjalankan kedisiplinan (Frankl dalam
Retnowati, 2008). Sedangkan anak yang hanya diasuh oleh ibu tungal akan
kehilangan figur seorang ibu. Hal ini mengakibatkan anak
kehilangan kasih sayang, ketenangan, dan
rasa nyaman yang diperoleh dari figur seorang ibu (Putri, 2013).
Anak merupakan anugrah
terindah yang dimiliki oleh setiap pasangan orang tua dalam sebuah keluarga.
Semenjak dilahirkan anak selalu menjadi pusat perhatian. Orang tua adalah yang
pertama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani,
jasmani, maupun sosial. Setiap orang tua menginginkan yang terbaik bagi
anaknya. Semampunya orang tua memberi kasih sayang, perhatian, perawatan, serta
bimbingan yang terbaik untuk anaknya.
Setiap orang
tua memiliki tanggungjawab untuk selalu mengawasi anaknya dan memperhatikan
perkembangannya, oleh karena itu hal-hal yang sekecil apapun harus bisa diantisipasi oleh setiap
orang tua mengenai dampak positif atau negatif yang akan ditimbulkan oleh hal
yang bersangkutan. Begitu juga mengenai hal televisi ini, yang sudah nyata
dampak negatifnya, sudah sepatutnya setiap orang tua mempersiapkan senjata
untuk mengantisipasinya. Dengan demikian maka keluarga hendaknya mengajarkan pada anak bahwa sebagai
manusia yang mampu berpikir hendaknya tidak dieksploitasi oleh media, akan
tetapi sebagai manusia hendaknya mampu untuk memanfaatkan media. Manusia yang harus mengatur media, bukan media yang mengatur semua
roda kehidupan manusia.
Kewaspadaan
orang tua dalam melindungi dan mendampingi anak dalam menonton sangat diperlukan
sehingga tayangan–tayangan yang disajikan oleh televisi tidak dapat dengan
mudahnya mempengaruhi perkembangan kepribadian serta perilaku anak ke arah yang
negatif (Desti, 2005). Televisi
mempunyai daya tarik yang kuat. Jika radio mempunyai daya tarik yang kuat di
sebabkan unsur kata-kata, musik, dan
efek suara, maka televisi selain tiga unsur tersebut juga memiliki unsur visual
berupa gambar. Gambar itu pun bukan gambar mati, melainkan gambar hidup yang mampu
menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya. Oleh karena itu, orang tua perlu
memberikan arahan kepada anak pada saat melihat televisi agar acara yang
ditonton oleh anak agar dapat berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak. Anak-anak/remaja perlu diberikan penjelasan dan informasi
yang benar tentang apa saja (program televisi) yang diperbolehkan untuk ditonton.
Selain itu, perlu adanya pembatasan waktu menonton, pemilihan saluran yang sesuai
dan cocok bagi anak/remaja, dan pilihan tentu pada program yang dapat
mengembangkan tingkat kreativitas anak/remaja secara positif dan
mendidik.Inilah tugas orang tua yang tidak boleh dilupakan.
Berdasarkan
hasil penelitian terhadap orang tua tunggal, diperoleh informasi bahwa
masing-masing orang tua tunggal memiliki aturan yang diberlakukan kepada anaknya
ketika melihat tayangan televisi. Seperti yang diutarakan
oleh Siti Aminah seorang ibu tunggal, yang menyatakan:
“Saya
cegah kalo nonton yang pacar-pacaran, pokoknya setelah habis Isya` baru boleh
nonton TV. Kalau anak saya nonton yang srigala-srigala itu kan kayak
pacaran-pacaran itu saya larang nak”.
Begitu pula
dengan Sarman seorang ayah tunggal yang menyatakan:
“Disuruh
menontonnya yang baik-baik saja, trus nontonnya bersama-sama”
Menurut
Budi Astuti dalam Malikhah (2013) menyatakan bahwa terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk
menghadapi tayangan televisi dewasa ini, yakni:
1) Pendidikan mental
Pendidikan
mental memang perlu ditanamkan sejak dini agar anak tidak mudah terpengaruh
oleh apa yang mereka lihat di kotak ajaib yaitu "televisi". Bentengi dengan
pendidikan agama yang ditanamkan sejak awal, hal ini diharapkan mampu
menjadi pegangan hidup anak di masa mendatang. Anak sudah dikenalkan pada baik
buruk, boleh tidak boleh, layak tidak layak, dan lain-lain sesuai dengan ajaran
agama yang dianutnya.
2) Komunikasi
Komunikasi
dengan orang tua yang diperlukan agar anak terbiasa berbagi (share) rasa dengan orang tua dan
terkondisi untuk mengeluarkan pendapat di hadapan orang tua. Dengan demikian
akan tercipta komunikasi timbal balik antara orang tua dan anak. Jika kondisi
ini terbentuk sejak dini, maka hingga anak dewasa mudah-mudahan anak akan
selalu percaya kepada orang tua dan tidak mencari sumber informasi dari luar
yang barangkali sulit dipertanggungjawabkan.
3) Mendidik dengan kasih sayang
Bagi
sebagian orang menunjukkan kasih sayang diwujudkan dengan memanjakan anak, baik
secara fisik maupun psikis. Memanjakan anak dalam bentuk fisik adalah menuruti
semua permintaan anak yang berwujud benda nyata. Dalam bentuk psikis adalah
munculnya sikap terlalu melindungi. Kasih sayang dapat ditunjukkan dengan
perhatian yang cukup, di mana anak dapat merasakan kasih sayang orang tua.
Situasi seperti ini akan membuat anak belajar menyayangi orang lain dan
lingkungannya, yang kemudian dapat menjadi benteng pribadinya
dari penyimpangan-penyimpangan.
4) Memberi/memilih lingkungan yang baik
Pendidikan
yang baik dalam keluarga harus mendapat dukungan lingkungan yang baik pula, melalui
pemberian lingkungan yang baik akan tercipta kondisi yang subur untuk
mengembangkan diri anak secara maksimal.
5) Membentuk sikap selektif
Norma
keluarga yang ditanamkan sejak masa kanak-kanak biasanya akan terbawa hingga anak
menjadi dewasa. Dalam menonton televisipun anak sudah dapat mulai diajarkan untuk
bersikap selektif. Artinya anak diarahkan agar mampu memilih acara yang
benar-benar diperlukan untuk mengembangkan dirinya ke arah yang positif.
6) Kompromi
Anak
seperti orang dewasa, ada kalanya mereka ingin menonton acara yang menarik bagi
mereka, namun pada waktu yang sama anak juga harus mengerjakan tugas (membantu
orang tua, belajar, mengerjakan pekerjaan rumah, dan sebagainya). Dalam menghadapi
masalah seperti ini orang tua dapat membantu kesepakatan tentang apa atau mana
yang akan dilakukan terlebih dahulu, misal menonton televisi atau mengerjakan
tugas sekolah. Dengan demikian, anak dibiasakan untuk memilih dan memutuskan
masalahnya sendiri. Menurut para ahli perkembangan anak, pembiasaan terhadap
anak untuk memutuskan akan membantu terbentuknya sikap mandiri, yang tentu saja
harus disertai dengan penanaman kedisiplinan terhadap apa yang mudah
disepakati.
7) Contoh dari orang tua
Semua kiat
di atas tidak dapat sepenuhnya berhasil bila tanpa contoh (teladan) dari orang
tua, sebab pada dasamya anak lebih cenderung meniru yang dilakukan oleh orang
tuanya. Inilah konsekuensinya yang harus dibayar oleh para orang tua dalam
menanamkan norma-norma dalam keluarga.
Menurut Ningsih (2009), ada
beberapa hal yang bisa dilakukan oleh
setiap orang tua untuk mengurangi pengaruh negatif tayangan
televisi, adalah:
1)
Memilih tayangan televisi yang sesuai dengan usia anak
Jangan membiarkan anak-anak menonton acara yang tidak sesuai dengan
usianya, memperhatikan dan menganalisis apakah sesuai dengan anak-anak (tidak
ada unsur kekerasan, atau hal lainnya yang tidak sesuai dengan usia anak).
2)
Mendampingi anak ketika menonton televisi
Hal ini bertujuan agar acara televisi yang mereka tonton selalu
terkontrol dan orang tua dapat memperhatikan apakah acara tersebut masih layak
atau tidak untuk di tonton.
3) Meletakan televisi di ruang tengah, dan menghindari
menyediakan televisi di kamar anak.
Jika orang tua meletakkan televisi di ruang tengah, maka akan mempermudah orang tua dalam mengontrol
tontonan anak-anaknya, serta dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan
oleh orang tua. Hal ini dikarenakkan kecenderungan rasa ingin tahu anak-anak
sangat tinggi.
4) Menanyakan acara favorit anak-anak
dan membantu anak dalam memahami pantas tidaknya acara tersebut dengan cara mendiskusikan
tayangan dengan anak setelah menonton, dan mengajak anak menilai karakter dalam
acara tersebut secara bijaksana dan positif.
5) Mengajak anak keluar rumah
untuk menikmati alam dan lingkungan, bersosialisasi secara positif dengan orang
lain.
Berdasarkan
beberapa uraian di atas, dapat dikemukakan bahwa hendaknya orang tua khususnya
orang tua tunggal menekankan kepada anak-anaknya dalam hal penggunaan waktu
luang agar tidak hanya untuk menonton TV, tetapi perlu digunakan pula untuk bergaul,
mengembangkan pribadi melalui kegiatan lain. Sebagai seorang individu seharusnya,
anak dapat menempatkan diri sebagai pribadi yang aktif agar tidak mudah
dipengaruhi dan dibentuk oleh TV. Orang tua selaku manajer dalam keluarga perlu
melakukan langkah-langkah antisipasi terhadap kemungkinan yang ditimbulkan oleh
berbagai acara di televisi dan mengajarkan kepada anak untuk menentukan mana tayangan
yang layak untuk ditonton dan mana yang tidak layak untuk ditonton.
BAB V
PENUTUP
5.1. Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:
- Pengaruh negatif tayangan televisi terhadap anak adalah menyebabkan malas belajar, menyebabkan perebutan tayangan televisi dengan saudara, dan menyebabkan kecanduan untuk melihat tayangan televisi.
- Cara orang tua tunggal untuk mengatasi masalah tersebut, antara lain: pemberian nasihat seperti memperbolehkan menonton televisi tetapi harus diimbangi dengan belajar, menonton televisi secara bersama-sama, dan mengatur jadwal menonton televisi.
5.2. Saran
Berdasarkan
temuan penelitian yang telah diuraikan, terdapat beberapa saran yang dapat
disampaikan dalam penelitian ini antara lain:
- Sebagai seorang anak, anak seharusnya mempunyai cara pandang yang baik dan benar untuk menilai tayangan televisi yang ada sekarang ini, dan tidak terlalu mudah mengikuti suatu hal yang baru yang belum tentu baik untuk diri.
- Sebagai orang tua hendaknya memiliki kontrol terhadap anak-anaknya dengan melakukan pendampingan dan melakukan komunikasi dua arah dengan anak, sehingga anak mendapatkan arahan mengenai apa yang baik untuk kepentingan dirinya.
- Bagi statiun telvisi, diharapkan adanya kontribusi positif dari setiap tayangan televisi yang baik dan layak ditonton baik untuk anak, remaja, ataupun orang tua/dewasa.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta.
Aryanty,
Eva. 2010. Peranan Orang Tua Dalam Menangani Dampak Negatif Tayangan Televisi
Terhadap Anak Usia Dini (Studi
Deskriptif Di Kelompok Bermain Niagara Desa Tanimulyakecamatan Ngamprah). http://publikasi.stkipsiliwangi.ac.id/penyusun/eva-aryanty/.
[19 Januari 2015].
Boeree,
C. George. 2008. Psikologi Sosial.
Jakarta: Prismasophie.
Desti,
Sri. 2005. Dampak Tayangan Film di Televisi terhadap Perilaku Anak. Jurnal Komunikasi, 2(1): 1-7.
Faradina
dan Fajrianthi. 2011. Konflik Pekerjaan-Keluarga dan Coping pada Single
Mothers. Jurnal Psikologi Industri dan
Organisasi, 1(2): 94-101.
Malikhah.
2013. Korelasi Pengaruh Tayangan Televisi terhadap Perkembangan Perilaku
Negatif Anak Usia Dini (Studi Pada
Kelompok B Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal V Kudus Tahun 2011 / 2012
). Skripsi. Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang .
Nabiu,
Nurmihailoa. 2013. Hubungan antara Menonton Tayangan Infotainment di TV dan Agenda Komunikasi Ibu Rumah Tangga di Kota
Makasar. Skripsi. Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanudin.
Narbuko, Cholid dan Achmadi, Abu. 2013. Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.
Ningsih,
2009. Pengaruh Televisi terhadap Anak. http://www.damandiri.or.id/file/muazarhabibiupibab1.pdf. [19 Januari 2014].
Oktiani,
Hestin. W, Andy Corry. A, Abdul Firman, dan Suciska, Wulan. 2012. Penyuluhan
Dampak Negatif Bermain Game dan Menonton Tayangan Bermuatan Kekerasan pada Anak
(Penyuluhan pada Siswa SDN Rajabasa, Bandar Lampung). Makalah. Seminar Hasil-hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada
Masyarakat- Dies Natalis FISIP Unila tahun 2012.
Pandiya.
2008. Dampak Negatif Program Televisi pada Rmaja Kota Semarang. Jurnal Pengembangan Humaniora, 8(1):
41-46.
Putri,
Wiyanti. 2013.Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal Dalam Membentuk Kecerdasan
Emosi Remaja. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik,
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran “ Jawa Timur Surabaya.
Retnowati,
Y., Hubeis, A.V.S., dan Hardiyanto. 2008. Pola Komunikasi Orang Tua Tunggal
dalam Membentuk Kemandirian Anak
(Kasus di Kota Yogyakarta). Jurnal
Komunikasi Pembangunan, 6(1): 43-54.
Sochib,
Moh.1998. Pola asuh Orang Tua untuk
Membantu Anak Mengembangkan Disiplin Diri. Jakarta: Rineka Cipta.
Subana dan Sudrajat. 2005. Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono,
2005. Statistik untuk Penelitian.
Bandung: Alfabeta.
Sugiyono,
2008. Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Supidin,
Depi. 2008. Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Dalam Pola Asuh Orangtua
Tunggal (Single Parents) (Studi Kadus Di SMP Muhammadiyah 3 Depok, Sleman,
Yogyakarta). Skripsi. Fakultas
Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Zahro,
Fatimatuz. 2013. Dampak Televisi Terhadap Perilaku Anak Sekolah. Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA DENGAN ORANG TUA
Nama Orang
Tua :
Nama Anak :
1. Sejak kapan Anda menjadi single parent? Dan apa penyebabnya?
2. Bagaimana keakraban Anda dengan anak
Anda?
3. Dalam sehari, berapa kali anak Anda
menonton televisi? Kapan?
4. Menurut Anda, anak Anda lebih sering
belajar atau menonton televisi?
5. Apakah Anda selalu mengawasi anak
Anda ketika menonton TV?
6. Jenis tayangan televisi apakah yang
baik untuk ditonton oleh anak?
7. Bagaimana pendapat Anda dengan
tayangan TV saat ini?
8. Pengaruh negatif seperti apakah yang
terjadi pada anak Anda setelah menonton tayangan TV?
9. Bagaimana cara Anda untuk
membentengi anak Anda dari dampak negatif TV?
10. Bagaimana bentuk komunikasi yang
Anda lakukan ketika anak Anda menonton TV?
11. Bentuk pembimbingan seperti apakah
yang Anda berikan mengenai tayangan TV?
12. Apakah
Anda sudah merasa berhasil membimbing anak Anda agar terhindar dari pengaruh
negatif mengenai tayangan TV?
Lampiran 2
PEDOMAN WAWANCARA DENGAN ANAK
Nama Siswa :
Kelas :
- Dalam sehari, berapa kali Anda menonton televisi? Kapan?
- Acara atau tayangan TV apa yang menjadi favorit Anda?
- Mengapa Anda menyukai acara/tayangan tersebut?
- Berapa lama durasi Anda menonton TV dalam sehari?
- Apakah Anda merasakan adanya pengaruh negatif dari tayangan TV yang Anda tonton?
- Bagaimana pengaruh tayangan TV terhadap Anda dalam kehidupan sehari-hari?
- Bagaimana sikap orang tua Anda pada saat Anda menonton TV?
- Apakah orang tua Anda mendampingi Anda ketika menonton tayangan TV?
- Apakah Anda sering dinasehati orang tua Anda mengenai tayangan TV yang Anda tonton?
- Bagaimana cara Anda membentengi diri Anda dari pengaruh negatif tayangan TV?
Lampiran 3
DOKUMENTASI
PENELITIAN
![]() |
![]() |
||

Wawancara dengan Sarman Wawancara dengan Sutinah
Wawancara dengan Jumadi Wawancara
dengan Siti Anisatun
Wawancara dengan Muarifah Wawancara
dengan Indah Fitriyah
![]() |
![]() |
Wawancara dengan Siti Aminah Wawancara dengan Ahmad Zaenal K.
![]() |
![]() |

Wawancara dengan Shifatur Rohmah Wawancara dengan Anik Mirawati
Wawancara dengan Misbakhul Lail
Wawancara dengan Lailin Wahyuni
BIODATA
PESERTA
1.Biodata
Ketua
a.Nama : Dewi Zuli
Sukmawati
b.Tempat/Tanggal
Lahir : Demak, 8 Juli 1998
c.Kelas : XI IPS 1
d.Alamat : Desa
Wonoketingal Rt.05/Rw.01 Demak
e.No.
HP :
087831626633
f.Riwayat
Pendidikan : MIN Wonoketingal (2004-
2010)
MTs
Nahdlotussibyan Karanganyar Demak (2010- 2013)
MA
Nahdhotussibyan Karanganyar Demak
(2013-sekarang)
g.Pengalaman
Organisasi : Seksi Kepribadian OSIS
tahun 2013/2014
Bendahara
OSIS tahun 2014/2015
Penegak
Ambalan (Bantara)
2.Biodata
Anggota
a.Nama : Rizqi Ananda
Safitri
b.Tempat/Tanggal
Lahir : Demak, 7 Februari 1998
c.Kelas : XI IPA
d.Alamat : Desa
Wonoketingal Rt.03/Rw:02 Demak
e.No.
HP :
087833294285
f.Riwayat
Pendidikan : MIN Wonoketingal (2004-
2010)
MTs
Nahdlotussibyan Karanganyar Demak (2010- 2013)
MA
Nahdhotussibyan Karanganyar Demak
(2013-sekarang)
g.Pengalaman
Organisasi : Seksi Pendidikan OSIS
tahun 2013/2014
Seksi
Pendidikan OSIS tahun 2014/2015
Penegak
Ambalan (Bantara)
BIODATA
GURU PEMBIMBING
a.Nama : Hidayah
Hidzyam Diniy
b.Instansi : MA
Nahdlotussibyan
c.Alamat Rumah : Janggalan Rt. 02 Rw. 02 Kudus
d.No.
HP :
085640795570
e.Pendidikan
Terakhir : S2 Pendidikan IPA
UNNES







No comments:
Post a Comment