LINGKUNGAN
PENDIDIKAN
Makalah
Disususun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ilmu
Pendidikan
Dosen Pengampu: Inayatul
Khafidhoh, M.Pd

Oleh:
Nur Fatimah (1603096008)
Radita Hani Nur. W (1603096025)
Medy Nadirawati (1603096026)
Rizki Ananda Safitri (1603096027)
Dwi Sari Syahfitri (1603096028)
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Hak dan
Kewajiban Warga Negara dengan lancar.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Ilmu Pendidikan
serta membantu mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap Linkungan
Pendidikan. Diharapkan pembaca dapat memahami mengenai macam-macam lingkungan
pendidikan serta hubungannya.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen mata
kuliah Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
berkarya menyusun makalah Ilmu Pendidikan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Saran dan
kritik sangat penulis harapkan dari seluruh pihak dalam proses
penyempurnaan makalah ini .
Semarang, November 2016
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
..........................................................................................
i
KATA
PENGANTAR
…...................................................................................
ii
DAFTAR
ISI
......................................................................................................
iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah ........................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan
penulisan
...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian Lingkungan
Pendidikan ......................................................... 3
B.
Lingkungan Pendidikan
Keluarga ............................................................ 5
C.
Lingkunan Pendidikan Sekolah
............................................................... 7
D.
Menjelaskan Lingkungan
Pendidikan Masyarakat .................................. 9
E.
Menganalisis Hubungan
Sekolah dengan Masyarakat ........................... 13
BAB III PENUTUP
A.
Simpulan
................................................................................................ 18
B.
Saran
...................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 20
Lampiran ........................................................................................................... 21
BAB
I
PNEDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan
bagi manusia adalah mutlak, berlangsung sejak manusia ada dan berlaku sepanjang
zaman. Manusia membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan wawasan dan
meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan mencakup seluruh aspek kehidupan
oleh karenanya pendidikan dibuutuhkan bagi manusia sepanjang zaman dan tidak
terbatas waktu. Pendidikan diperoleh dari berbagai aspek baik formal maupun
tidak formal, biasanya pendidikan identik dengan sekolah karena sekolah sebagai
tempat berlangsungnya pendidikan secara sistematis dan terstruktur. Pendidikan
berproses didalam diri pribadi seseorang, keluarga, masyarakat lokal,
nasioanal, regional, sampai taraf internasional.
Pendidikan
tidak terlepas dari lingkungan, karena proses pendidikan terjadi di lingkungan.
Lingkungan pendidikan sangat luas cakupannya mulai dari lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, lingkungan teman dan lingkungan sosial. Setiap lingkungan
pendidikan memiliki peranan dan fungsi masing-masing yang sama pentingnya,
lingkungan juga sangat mempengaruhi terbentuknya manusia. Apabila lingkungan
baik manusia yang terbentuk juga baik, pula sebaliknya. Lingkungan membentuk
karakter manusia, oleh karenanya lingkungan yang baik perlu diusahakan manusia
agar terbentuk karakter yang baik.setiap lingkungan juga memiliki keterkaitan
dan hubungan. Lingkungan keluarga yang baik belum menjamin karakter yang baik,
begitu juga dengan lingkungan sekolah dan teman. Ketiganya harus memiliki
keterkaitan yang sama-sama untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik.
Berdasarkan
uraian diatas, penulis membuat makalah ini dengan judul “Lingkungan
Pendidikan”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar
belakang, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa
pengertian lingkungan pendidikan?
2. Bagaimana
lingkungan pendidikan keluarga?
3. Bagaimana
lingkungan pendidikan sekolah?
4. Bagaimana
lingkungan pendidikan masyarakat?
5. Bagaimana
hubungan sekolah dengan masyarakat?
C. Tujuan
Penulisan
Berdasarkan rumusan
masalah tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui
apa pengertian lingkungan pendidikan?
2. Menegatahui
bagaimana lingkungan pendidikan keluarga?
3. Mengetahui
bagaimana lingkungan pendidikan sekolah?
4. Mengetahui
bagaimana lingkungan pendidikan masyarakat?
5. Mengetahui
bagaimana hubungan sekolah dengan masyarakat?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan secara umum diartikan sebagai
kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya, yang
dapat mempengaruhi
kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Sedangkan pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar
peserta didik secara
aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual
keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Jadi, lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Seperti diketahui, lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseorang, peranan ligkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut.[1]
Jadi, lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Seperti diketahui, lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseorang, peranan ligkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut.[1]
Berdasarkan
perbedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga lingkungan
pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan informal,
pendidikan formal, pendidikan non formal. Pendidikan yang terjadi di ingkungan
keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta disebut pendidikan informal,
sebaliknya pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang secara sengaja
dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus
berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan
pendidikan di lingkungan masyarakat (umpamanya kursus dan kelompok belajar)
tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan
aturan-aturan yang lebih longgar sehingga disebut pendidikan non formal.
Sebagai
pelaksanaan pasal 31 ayat 2 dari UUD 1945, telah ditetapkan UU RI No. 2 Tahun
1989 tentang Sisdiknas (beserta peraturan pelaksanaannya) yang menata kembali
pendidikan di Indonesia, termasuk lingkungan pendidikan. Sisdiknas itu
membedakan dua jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur
pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang
diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang berjenjang
dan bersinambungan. Mulai dari pendidikan prasekolah (taman kanak-kanak),
pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Sedangkan jalur luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar
sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang harus berjenjang dan
berkesinambungan, baik yang dilembagakan maupun tidak, yang meliputi pendidikn
keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain dan penitipan anak),
kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.
Secara umum
fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi
dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, budaya) utamanya berbagai
sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang
optimal. Penataan lingkungan pendidikan ini terutama dimaksudkan agar proses
pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui proses
prtumbuhan dan perkembangan manusia sebagai hasil interaksi dengan
lingkungannya akan berlangsung secara amiah dan konsekuensi bahwa tumbuh
kembang itu mungkin berlangsung lambat dan menyimpang dari tujuan pendidikan.
Oleh karena
itu, diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan
itu sedemikian rupa agar dapat diperoleh peluaang pencapaian tujuan secara
optimal, dan dalam waktu serta dengan daya/dana yang seminimal mungkin. Dengan
demikian diharapkan mutu sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal
itu hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat
mlaksanakan fungsinya.[2]
B. LINGKUNGAN
PENDIDIKAN KELUARGA
Keluarga adalah tempat pertama di mana
proses pendidikan berlangsung. Di dalam keluarga, benih pendidikan mulai tumbuh
dalam hubungan cinta kasih, tolong-menolong, dan saling memberi pengertian,
pengetahuan, peringatan, bimbingan, dan pengarahan secara timbal balik di
antara suami-istri dan antara orang tua kepada anak-anak.
Pada mulanya, pendidikan berlangsung secara
hereditis. Orang tua percaya pertama kali memberikan pengetahuan instingtif
berupa kasih sayang, perlindungan, dan penjagaan ketat kepada anak-anak.
Setelah itu, orang tua memberikan pengetahuan empirik seperti percontohan,
bimbingan, dan arahan. Kemudian memberikan pengetahuan rasional ke arah
pemecahan masalah, seperti menentukan pilihan, mengatur kegiatan terencana, dan
mulai membentuk sikap percaya diri.
Tanggung jawab orang tua terhadap anak
mencerminkan suatu ciri khas pendidikan keluarga. Di dalam keluarga, anak mendapat
bimbingan dan perawatan dalam rangka membentuk perwatakan dan kepribadian anak,
untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi diri pribadi yang utuh.
Di dalam kehidupan keluarga, kegiatan
pendidikan berlangsung dengan sasaran pencerdasan spiritual, berupa:
1. Moral
syukur dalam menerima setiap kelahiran, keberuntungan, dan bahkan nasib buruk
sekalipun;
2. Moral
sabar dalam menghadapi segala macam persoalan kehidupan;
3. Moral
ikhlas dalam menghadapi akhir kehidupan (kematian) dan bencana yang
memusnahkan.[3]
Tanggung
jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap
anak antara lain sebagai berikut :
1. Memelihara
dan membesarkannya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk
dilaksanakan, karena anak memerlukan makanan, minum dan perawatan, agar ia
dapat hidup secara berkelanjutan.
2. Melindungi
dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai
gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
3. Mendidiknya
dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya,
sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang
lain serta melaksanakan kekhalifahannya.
4. Membahagiakan
anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan
ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.
Dalam konsep pendidikan modern, kedua orang
tua harus sering berjumpa dan bedialog dengan anak-anaknya. Pergaulan dalam
keluaraga harus terjalin secara mesra dan harmonis. Kekurangakraban kedua orang
tua dengan anaknya dapat menimbulkan kerenggangan kejiwaan yang dapat menjurus
kepada kerenggangan secara jasmaniah.
Cara pendidikan anak dapat ditempuh pula
dengan menimbulkan kesadaran berkeluarga, yaitu ia adalah salah anggota
keluarga di dalam rumahnya. Ia mempunyai ayah dan ibu serta saudara (kakak atau
adik) sekandung. Juga dalam keluarga ini ada nenek, kakek atau saudara lain
yang harus dihormati. Ia tidakk dapat dan tidak boleh memaksakan kehendaknya
kepada orang lain dan harus berlaku sopan sesuai dengan ajaran agama dan adat
yang berlaku. Kepada adiknya ia harus sayang dan kepada kakaknya harus hormat
dan kepada orang tua dan kakek-nenek memuliakannya. Bila hendak meninggalkan
rumah sepulang dari bepergian sebaiknya mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Minta
izinlah kepada orang tua terlebih dahulu bila akan keluar rumah. Kalau ada
orang tua yang sedang berbicara, jangan ikut pula menggabungkan diri karena
tingkah laku demikian tidak sopan, terkecuali kalau dipanggil.[4]
Dalam
UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan fungsi dan peranan
keluarga dalam pencapaian tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia
seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar
sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan
agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan (Pasal 10 Ayat 4). Dalam
penjelasan undang-undang tersebut ditegaskan bahwa pendidikan keluarga itu
merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman
seumur hidup. Pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama, nilai
budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan,
keterampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan (Undang-Undang, 1992:
26). Selanjutnya, dalam penjelasan ayat 5 Pasal 10 ditegaskan bahwa pemerintah
mengakui kemandirian keluarga untuk melaksanakan upaya pendidikan dalam
lingkungan sendiri.[5]
C.
LINGKUNGAN
PENDIDIKAN SEKOLAH
Tidak semua tugas mendidik dapat
dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan
dan berbagai macam ketrampilan. Oleh karena itu dikirimkanlah anak ke sekolah.
Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan
anak-anak selama mereka diserahkan kepadanya.[6]
Pada dasarnya pendidikan sekolah merupakan bagian dari pendidikan keluarga yang
sekaligus juga merupakan lanjutan dari pendidkan keluarga. Di samping itu,
kehidupan di sekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan
dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.
Yang dimaksud dengan pendidikan di sini
adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis,
bertingkat dan dengan mengikuti syarat- syarat yang jelas dan ketat (mulai dari
Taman Kanak- Kanak sampai Perguruan Tinggi).[7]
Oleh karena itu, sebagai sumbangan sekolah terhadap pendidikan, diantaranya
adalah:
1. Sekolah
membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan
budi pekerti yang baik.
2. Sekolah
memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat diberikan di
rumah.
3. Sekolah
melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca,menulis,
berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya mengembangkan
kecerdasan dan pengetahuan.
4. Di
sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membedakan benar atau
salah dan sebagainya.
5. Dan
lain-lain.
Berkenaan
dengan sumbangan sekolah terhadap pendidikan itulah, maka sekolah sebagai
lembaga pendidikan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: tumbuh sesudah
keluarga (pendidikan kedua), lembaga pendidikan formal, dan lembaga pendidikan
yang tidak bersifat kodrati. Di samping itu, pendidikan sekolah juga mempunyai
ciri-ciri khusus yaitu:
1. Diselenggarakan
secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarkhis.
2. Usia
siswa (anak didik) di suatu jenjang relatif homogen
3. Waktu
pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus
diselesaikan.
4. Isi
pendidikan ( materi) lebih banyak yang bersifat akademis dan umum.
5. Mutu
pendidikan sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan di masa yang
akan datang.
Lingkungan
sekolah merupakan lingkungan pendidikan utama yang kedua. Siswa-siswi, guru,
administrator, konselor hidup bersama dan melaksanakan pendidikan secara
teratur dan terencana dengan baik.[8]
D.
LINGKUNGAN PENDIDIKAN MASYARAKAT
Masyarakat dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan
banyak orang dalam berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak
berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia adalah laboratorium
besar tempat para anggotanya mengamalkan
semua ketrampilan yang dimilikinya. Disamping itu masyarakat juga termasuk
pemakai atau the User dari para anggotanya. Kualitas dari suatu masyarakat
ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya.
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan non formal yang memberikan
pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak
sistematis. Secara fungsional setruktural, masyarakat ikut mempengaruhi
terbentuknya sikap social para anggotanya, melalui pengalaman yang berulang
kali. Mengingat pengalaman yang beraneka ragam, maka sikap social anggotanya
pun beraneka ragam pula.
Jika di lembaga pendidikan pendidiknya adalah guru, maka dalam
masyarakat adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan
anggotanya melalui sosialisasi lanjutan yang diletakkan dasar-dasar oleh keluarga
dan juga oleh sekolah sebelum mereka masuk ke dalam masyarakat.melalui
sosialisasi lanjutan, maka kedewasaan social para anggotanya akan terbentuk.
Dengan demikian akan melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat yang
bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang banyak.
Masyarakat secara fungsional dan structural bertanggung jawab terhadap
perilaku dan tingkah laku warganya di masing-masing lingkungannya. Secara
konsepsional pemimpin masyarakat
bertanggung jawab mengawasi, menyalurkan, membina, dan meningkatkan
kualitas anggotanya, dan dengan demikian aktivitas masing-masing anggota
masyarakat berjalannya menurut fungsinya dalam mewujudkan masyarakat yang
damai.[9]
Masyarakat juga dapat di artikan sebagai bentuk kehidupan social dan merupakan
perluasan dari keluarga. Karena itu, suatu kehidupan masyarakat mempunyai
bentuk dan struktur berdasarkan tata nilai dan tata budaya sendiri. Di dalam
hubungan itu, berlangsung kegiatan-kegiatan social, ekonomi, hukum, politik,
kebudayaan, dan bahkan kegiataan spiritual keagamaan yang bisa saling
mendukung. Masyarakat berposisi dan berfungsi sebagai wadah dan wahana
pendidikan.
Masyarakat dapat dipahami sebagai lingkungan pendidikan yang
“alternative” yang juga biasa disebut dengan pendidikan social (masyarakat).
Jenis, sifat, dan bentuk pendidikan yang berlangsung dan dialami di dalam
masyarakat, menurut motifnya sangat bervariasi, ada yang materi pembelajarannya
dengan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Ada pula yang secara
khusus membentuk ketrampilan hidup, sesuai bidang pekerjaan. Dan ada juga yang
proses kegiatan pembelajaranya menekankan pada pembentukan kesusilaan dan
keagamaan, dan menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran di sekolah.[10]
Alasan penyelanggaraan pendidikan masyarakat, yaitu :
1.
Bagi mereka yang memang tidak mampu
bersekolah.
Alasan itu bisaa terjadi
karena masalah ekonomi, bisa karena cacat kodrat, dan sebagainya.
2.
Bagi mereka yang putus sekolah, karena
kemampuan ekonomi, kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
3.
Bagi mereka yang sedang aktif mengikuti
kegiatan pendidikan sekolah. Kelompok ini disebabkan karena ketertinggalan
dalam mengikuti pelajaran, keinginan menambah pengetahuan yang dirasa kurang,
dan sebagainya.
Sifat pendidikan
masyarakat :
1.
Tidak seperti pendidikan sekolah, pendidikan
masyarakat tidak mengenal jenjang (kelas/strata) tetapi di proses menurut
paket. Oleh karena itu, biasanya program pendidikan diselenggarakan dalam waktu
yang relative pendek.
2.
Tidak pula seperti pendidikan sekolah, peserta
pendidikan masyarakat bersifat heterogen. Peserta didik tidak dikategorikan
menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, kepentingnan, dsb.
3.
Seperti system pendidikan sekolah,
pemebelajaran diselenggarakan menurut jadwal, metode formal, dan untuk
menetukan kualias standar, dilakukan evaluasi.
4.
Isi dan materi pembelajaran ditekankan pada
keterampilan kerja demi keperluan peningkatan taraf hidup. Karena itu, materi
pemebelajarn bersifat khusus dan praktik. Kemudian, setelah menyelesaikan satu
satuan paket materi pembelajaran, diberikan pula sertifikat (untuk kepentingan
pekerjaan).
Sasaran pendidikan
masyarakat :
1.
Bagi remaja putus sekolah. Golongan remaja ini
berpotendsi menjadi pengagguran. Oleh Karena itu, perlu mendaptkan pendidikan
keterampilan atau kejujuran. Adapun sasarannya adalah membia kreatiitas dan
keterampilan atas pekerjaan tertentu agar selanjutnya dapat memnuhi kebutuhan
kehidupannya sendiri. Misalnya, kyrsus perbengkelan, menjahit, dan senbagaimya.
2.
Bagi para buruh, petani, dan nelayan.
Dilingkungan masyaakat yang sedang berkembang, kehidupan masyarakat umumnya
berlangsung dengan bercocok tanam. Sehubungan dengan pertambahan penduduk,
peningkatan produksi sandang dan pangan senantiasa menjadi tuntutan utama.
Untuk itulah kepada mereka perlu diberiksn penyuluhan dan bimbingan metode,
system, dan teknik baru dalam hal peningkatan produksi.
3.
Bagi
para orang tua. Seiring kemajuan IPTEK banyak diantara mereka yang pada masa
mudanya belum mempelajarinya. Kepada mereka perlu diperkenalkan dan dibimbing
bagaimana mempergunakan peralatan modern yang sarat tekhnologi canggih,
terutama yang berubungan dengan managemen pemeliharan kesehatan.
4.
Bagi para ibu rumah tangga yang kurang
pendidikan, perlu juga diperlukan pendidikan khusus. Terutama hal hal yang
berhubungan dengan kerumah tanggaan, khususnya tentang pendidikan anak,
kesehatan, ekonomi,dan sebagainya
Demikianlah beberapa contoh kegiatan pembelajaran dengan sasaran khusus
yang diselenggarkan dilembaga pendidikan masyarakat. Pada hakikatnya, lembaga
pendidikan masyarakat perlu mengembangkan kegiatannya kearah semua aspek
kehidupan, yang khusus menekankan pada masalah pendidikan moral. Pemikiran
seperti ini dimajukan mengingat meningkatnya kemerosotan moral disemua
keidupan.[11]
E. HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Sekolah
dan masyarakat adalah dua unsur yang saling berhubungan, dimana bagian dari
masayarakat adalah sekolah, dan bagian dari sekolah terdapat masyarakat.
Sekolah berdiri ditengah-tengah masyarakat karena masyarakat membutuhkan
sekolah untuk menunjang kebutuhan pendidikan yang lebih baik. Di dalam sekolah
terdapat masyarakat yang sehingga sekolah dapat berjalan dengan baik yaitu
guru, siswa, petugas kebersihan, penjual kantin yang semuanya adlaah
masyarakat. Sekolah memiliki hubungan dengan masyarakat. Ikut berpartisipatis
dengan masyarakat merupakan hubungan erat anatar sekolah dengan masyarakat.
Berbagai bentuk partisipasi yang dapat dilakukan antara lain:
1. Mengadakan
penyuluhan dan ceramah kepada masyarakat misalnnya tentang agama, bahaya
narkotika, pendidikan pemuda dn pengenalan tentang pelaksanaan pendidikan di
sekolah.
2. Mengadakan
bakti sosial misalnya kerja bakti, pengairan kebersihan, pemberantasan tiga
buta dan lain-lain.
3. Menjadi
anggota pengurus organisasi lembaga ketahanan masyarakat desa maupun organisasi
lainnya.[12]
Dalam
bentuk partisipasinya perlu diingat batas-batasnya agar tidak mengganggu
kegiatan belajar mengajar. Selain itu, hubungan masyarakat dengan sekolah dapat
memperkenalkan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat. Di masyarakat juga
banyak organisasi masyarakat yang berkembang, disana tidak jarang pula tenaga
guru yang ikut berpartisipasi dalam
memangku jabatan di masyarakat misalnya: pengurus LKMD (Lembaga Ketahanan
Masyarakat Desa), KUD (Koperasi Unit Desa), PKK, Karang Taruna. Pengaruh
sekolah terhadap masyarakat juga dapat dilakukan dengan penyuluhan-penyuluhan
ke desa untuk memberi wawasan tentang kesehatan, bahaya narkoba, kekerasan pada
anak dan sebagainya sehingga secara tidak langsung masyarakat mengetahui sistem
pendidikan yang ada pada sekolah dan hal itu juga menimbulkan rasa keterbukaan
antara masyarakat dengan sekolah sehingga masyarakat tidak berpikir yang
aneh-aneh kepada sekolah.
Setidaknya
ada empat macam yang bisa diperankan/pengaruh sekolah terhadap perkembangan
masyarakat:
1. Mencerdaskan
kehidupan banngsa. Kecerdasan masyarakat dapat dikembnagkan melalui pendidikan
formal maupun informal. Melalui sekolah kecerdasan bisa diperoleh secara lebih
matang daripada melaui media yang lain karena sekolah adalah lembaga pendidikan
resmi yang memiliki sistem dan metode pembelajaran yang baku.
2. Membawa
virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat. Melalui pendidikan sekolah
terjadi transformasi pengetahuan antara yang satu dengan lainnya. Melalui
sekolah juga pembaruan-pembaruan ilmu pengetahuan disampaikan secara
sistematis, sehingga masyarakat tidak ketinggalan zaman.
3. Membekali
masyarakatuntuk siap kerja. Melalui sekolah-sekolah kejuruan seperti SMK, SMKK,
SMEA peserta didik diaarkan untuk menjadi calon pekerja yang siap kerja di
lapangan. Karena sekolah kkejuruan membekali peserta didik dengan satu bidang
ilmu khusus untuk mematangkan peserta didik di jurusannnya tersebut. Sehingga
setelah lulus sekolah sudah siap kerja dengan baik karena mendapat pembekalan
ilmu tidak sembarangan.
4. Melahirkan
sikap positif dan kontruktif bagi masayarakat sehingga tercipta integrasi
sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[13]
Selain
itu juga terdapat fungsi dan peranan sekolah terhadap masyarakat:
1) Meningkatkan
ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2) Meningkatkan
kecerdasan.
3) Meningkatka
ketrampilan dan mempersiapkan tenaga terampil, serta dapat meningkatkan
produksi kerja.
4) Membentuk
pribadi dan budi pekerti.
5) Melestarikan
nilai-nilai yang terpuji dalam masyarakat.
6) Pembangunan
nilai yang baru yang dianggap serasi oleh masyarakat dalam menghadapi tantangan
perkembangan ilmu, teknologi danmodernisasi.
7) Menanamkan
dan mempertebal semangat kebnagsaan.
8) Menghasilkan
penemuan-penemuan sebagai bahan atau konsep-konsep pembangunan (pembaruan)
masyarakat.
Selain hubungan antara sekolah terhadap
masyarakat, masyarakat juga berpengaruh terhadap sekolah. Sekolah berdiri di
tengah-tengah masyarakat yang semakin berkembang dari waktu-ke waktu. Sekolah
di dalamnya adalah bagian dari masyarakat yang hidup sekitar sekolah tersebut.
Perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat mempengaruhi program, proses,
kurikulum dan kegiatan sekolah. Sehingga mau tidak mau sekolah terus
mengembangkan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai perkembangan masyarakat.
Perubahan dalam pengembangan pembelajaran tersebut mengaharuskan terbentuknya
peserta didik yang lebih mau dan berkembang oleh karenanya pelaksanaan
pendidikan mengalami perubahan yang lebih maju untuk memenuhi tuntutan
tersebut,seperti wajib belajar 12 tahun. Karena masyarakat yang bertmutu akan
mempengaruhi mutu sekolah pula.
Pengaruh
lain dari peranan masyaraat terhadap sekolah adalah:
1. Sebagai
arah menentukan tujuan .
2. Sebagai
masukan dalam menentukan proses belajar mengaar.
3. Sebagai
sumber belajar.
4. Sebagai
pemberi dana dan fasilitas lainnya.
5. Sebagai
laboratorium guna mengembangkan dan penelitian sekolah.[14]
Peranan
masyarakat terhadap sekolah antara lain terutama dalam:
1. Pengawasan.
2. Bantuan-bantuan
yang berupa pembiayaan sekolah (gedung, sarana, prasarana)
3. Penyediaan
tempat untuk mendirikan sekolah atau lapangan sekolahh dan lain-lain keperluan
sekolah.
4. Penyediaan
narasumber
5. Masyarakat
sebagai laoratorium atau sumber belajar.
Manfaat masyarakat sebagai lingkungan
pendidikan antara lain:
1. Bagi
masyarakat:
a. Adanya
bantuan tenaga penididik.
b. Masyarakat
akan dapat secara terbuka menuyatakan realita di masyarakat tersebut kepada
peserta didik yang datang di lingkungan pendidikan masyarakat tersebut.
c. Masyarakat
lebih mengenal fungsi sekolah untuk pembangunan bagi mereka.
d. Masyarakat
terdorong untuk makin maju dalam berbagai bidang kehidupannya.
2. Bagi
sekolah
a. Sekolah
mendapat masukan dalam penyempurnaan pendidikan/pengajaran.
b. Memberikan
pengalaman langsung dan praktis bagi siswa dalam berbagai hal
c. Lebih
mengenal lingkungan sosio-budaya masyarakat yang penting dalam kesatuan dan
persatuan bangsa.
d. Mendekati
masalah secara interdisipliner
e. Mengerti
dan harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dalam masa pembangunan ini
f. Terdorong
untuk mengerti lebih dalam tentang berbagai segi masyarakat.
g. Mamanfaatkan
nara sumber dari masyarakat
h. Sekolah
hanya menerima bantuan dari masyarakat anatara lain pemikiran, dana, sarana,
dan lain-lain.
i.
Memanfaatkan
masyarakat sebagai laboratorium yang sesuai dengan keperluan siswa/mata
pelajaran tertentu. [15]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Lingkungan pendidikan adalah latar tempat berlangsungnya
pendidikan khususnya pada 3 lingkungan utama pendidikan yaitu: keluarga,
sekolah, masyarakat.
2. Keluarga
adalah tempat pertama di mana proses pendidikan berlangsung. Di dalam keluarga,
benih pendidikan mulai tumbuh dalam hubungan cinta kasih, tolong-menolong, dan
saling memberi pengertian, pengetahuan, peringatan, bimbingan, dan pengarahan
secara timbal balik di antara suami-istri dan antara orang tua kepada
anak-anak.
3.
Sekolah dan
masyarakat adalah dua unsur yang saling berhubungan, dimana bagian dari
masayarakat adalah sekolah, dan bagian dari sekolah terdapat masyarakat.
Sekolah berdiri ditengah-tengah masyarakat karena masyarakat membutuhkan
sekolah untuk menunjang kebutuhan pendidikan yang lebih baik. Di dalam sekolah
terdapat masyarakat yang sehingga sekolah dapat berjalan dengan baik yaitu
guru, siswa, petugas kebersihan, penjual kantin yang semuanya adlaah
masyarakat. Sekolah memiliki hubungan dengan masyarakat.
4.
Masyarakat dilihat dari konsep pendidikan,
masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dalam berbagai ragam kualitas diri
mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia
adalah laboratorium besar tempat para anggotanya
mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Disamping itu masyarakat juga
termasuk pemakai atau the User dari para anggotanya. Kualitas dari suatu
masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya.
5.
Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang
saling mempengaruhi. Pengaruh peranan masyaraat terhadap
sekolah adalah:
a. Sebagai
arah menentukan tujuan .
b. Sebagai
masukan dalam menentukan proses belajar mengaar.
c. Sebagai
sumber belajar.
d. Sebagai
pemberi dana dan fasilitas lainnya.
e. Sebagai
laboratorium guna mengembangkan dan penelitian sekolah
Pengaruh sekolah
terhadap perkembangan masyarakat:
a. Mencerdaskan
kehidupan banngsa.
b. Membawa
virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat.
c. Membekali
masyarakat untuk siap kerja.
d. Melahirkan
sikap positif dan kontruktif bagi masayarakat sehingga tercipta integrasi
sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.
B.
Saran
1. Untuk
keluarga, diharapkan agar dapat menjadi lingkungan pendidikan yang mampu
mengembangkan kemampuan spiritual peserta didik secara lebih mendalam dan kuat.
2. Untuk
lembaga pendidikan, diharapkan mampu menyediakan fasilitas baik dari segi
jasmani ataupun rohani agar menciptakan peserta didik yang berkemampuan
intelektual tinggi,
3. Untuk
masyarakat, diharapkan agar mampu memberikan pengaruh positif kepada sesama
agar terciptanya masyarakat yang sejatera.
4. Untuk
masyarakat dan lembaga pendidikan, diharapan agar dapat menyelaraskan kehidupan
di lingkungan masyarakat dan di lingkungan sekolah karena antara lingkungan
satu dnegan yang lainnya saling melengkapi satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Ihsan, Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan,
Jakarta:
PT Rineka Cipta, 2010.
Maunah, Binti, Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Teras, 2009.
Suhartono, Suparlan,
Filsafat Pendidikan, Jakarta: Ar-Ruzz Media Group,
2009.
Umar
Tirtarahardja dan L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka
Cipta 2008
Burhanuddin Afid, Pengertian
Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan, Wordpress, 2013, diakses dari
https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/08/pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan.html
pada 01 Nov
2016 pukul 21.00.
Lampiran
TANYA JAWAB
1. Pertanyaan : Bagaimana solusi terhadap
kekurangakraban orang tua dengan anaknya yang disebabkan oleh ketegasan orang
tua? [Siti Rofiah (1603096023)]
Jawaban : oleh Nur Fatimah (1603096008)
Sebaiknya orang tua
untuk lebih memperhatikan anaknya. Contohnya yaitu seperti menemani anak ketika
belajar. Dengan hal tersebut maka akan terjadi komunikasi dengan baik antara
anak dan orang tua sehingga anak merasa lebih diperhatikan oleh orang tua.
Selain itu orang tua seharusnya meluangkan waktu lebih banyak untuk anaknya.
Dengan begitu anak akan merasa bahwa orang tua sangat peduli kepadanya.
- Pertanyaan : Apa yang dimaksud dari pendidikan masyarakat sebagai laboratorium besar untuk sumber belajar? Berikan contohnya! [ Nur Aisyah (1603096035)]
Jawaban : oleh Medy Nadirawati (1603096026)
Pendidikan masyarakat sebagai
laboratorium besar untuk sarana belajar maksudnya yaitu, labortorium itu adalah
suatu tempat atau wadah yang besar untuk menampung sesuatu barang atau hasil
penelitian. Begitu juga dengan lingkungan pendidikan masyarakat, merupakan
suatu tempat atau wadah besar untuk mengamalkan semua ketrampilan para anggotanya.
Contohnya : Pendidikan masyarakat mendirikan koperasi desa sebagai sarana
memberi kebutuhan anggota masyarakatnya.
3. Pertanyaan : Apakah home schooling termasuk
pendidikan lingkungan disekolah dan apa pengaruhnya? [Putri Lusiana
(1603096021)]
Jawaban : oleh Radita Hani N. W. (1603096025)
Home Schooling tidak
termasuk dalam pendidikan lingkungan di sekolah, tetapi termasuk pada
pendidikan lingkungan masyarakat, karena home schooling dilaksanakan di rumah
secara privat/pribadi dan hanya terjadi interaksi antara seorang guru dengan
seorang murid, home schooling juga tidak mempunyai aturan seperti layaknya
peraturan di sekolah yang mempunyai aturan-aturan yang ketat. Peraturan yang
ada terjadi jika adanya kesepakatan antara seorang pendidik dan siswa.
Pengaruhnya terhadap seorang siswa/murid adalah seorang murid memiliki
kemampuan intelektual yang lebih unggul tetapi memiliki kemampuan emosional
yang rendah.
4. Pertanyaan :Bagaimana jika lingkungan masyarakat
tidak mendukung untuk sarana pendidikan? [Puti Mula Ayu (1603096006)]
Jawaban : oleh Rizqi Ananda Safitri
(1603096027)
Pendidikan berdiri di tengah-tengah
masyaraakat, antara pendidikan dengan masyarakat memiliki keterkaitan yang
erat. Pendidikan ada karena adanya kewenangan dari masayarakat dan masayarakat
membutuhkan pendidikan untuk memperbaiki kehidupannya. Lalu bila lingkungan
masyarakat tidak mendukung adanya kegiatan pembelajaran tentunya akan sangat
berpengaruh bagi kehidupan pendidikan di daerah itu. Pertama yaitu tidak
mendapatkan fasilitas yang sesuai karena fasilitas sekolah berasal dari
masayarakat. Kedua, kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan
baik karena baik siswa maupun tenaga pengajar kurang memadai. Ketiga, karena
kurangnya fasilitas dan tenaga maupun siswa kualitas pendidikan di masayarakat
itu kurang baik.
[1]Afid Burhanuddin., Pengertian Fungsi dan Jenis Lingkungan
Pendidikan. Wordpress, 2013, Di akses dari https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/08/pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan.html pada 01 November
2016 pukul 21.00
[2] Umar
Tirtarahardja dan L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta:
Jakarta, 2008, hlm.163-165.
[6] Binti Maunah, Ilmu
Pendidikan, Teras, Yogyakarta, 2009, hlm. 93
[7] Ibid., hlm. 100.
[11] Ibid., hlm.
160-163
[13] Ibid., hlm. 99.
[14] Ibid., hlm.
101-102.