Wednesday, 11 January 2017

LINGKUNGAN PENDIDIKAN- Makalah



LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Makalah
Disususun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu: Inayatul Khafidhoh, M.Pd




Oleh:
Nur Fatimah                            (1603096008)
Radita Hani Nur. W                (1603096025)
Medy Nadirawati                    (1603096026)
Rizki Ananda Safitri               (1603096027)
Dwi Sari Syahfitri                   (1603096028)
                                               
 PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah Hak dan Kewajiban Warga Negara dengan lancar.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Ilmu Pendidikan serta membantu mengembangkan kemampuan pemahaman pembaca terhadap Linkungan Pendidikan. Diharapkan pembaca dapat memahami mengenai macam-macam lingkungan pendidikan serta hubungannya.
Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Dosen mata kuliah Ilmu Pendidikan yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk berkarya menyusun makalah Ilmu Pendidikan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Saran dan kritik sangat penulis harapkan dari seluruh pihak dalam proses penyempurnaan  makalah ini .



                                                                                                                                                Semarang,  November 2016


                                                                                                                                                                        Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
KATA PENGANTAR …................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................  iii
BAB I PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C.       Tujuan penulisan ...................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
A.       Pengertian Lingkungan Pendidikan ......................................................... 3
B.       Lingkungan Pendidikan Keluarga ............................................................ 5
C.       Lingkunan Pendidikan Sekolah ............................................................... 7
D.       Menjelaskan Lingkungan Pendidikan Masyarakat .................................. 9
E.        Menganalisis Hubungan Sekolah dengan Masyarakat ........................... 13
BAB III PENUTUP
A.       Simpulan ................................................................................................ 18
B.        Saran ...................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 20
Lampiran ........................................................................................................... 21

BAB I
PNEDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan bagi manusia adalah mutlak, berlangsung sejak manusia ada dan berlaku sepanjang zaman. Manusia membutuhkan pendidikan untuk mengembangkan wawasan dan meningkatkan kualitas hidupnya. Pendidikan mencakup seluruh aspek kehidupan oleh karenanya pendidikan dibuutuhkan bagi manusia sepanjang zaman dan tidak terbatas waktu. Pendidikan diperoleh dari berbagai aspek baik formal maupun tidak formal, biasanya pendidikan identik dengan sekolah karena sekolah sebagai tempat berlangsungnya pendidikan secara sistematis dan terstruktur. Pendidikan berproses didalam diri pribadi seseorang, keluarga, masyarakat lokal, nasioanal, regional, sampai taraf internasional.
Pendidikan tidak terlepas dari lingkungan, karena proses pendidikan terjadi di lingkungan. Lingkungan pendidikan sangat luas cakupannya mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan teman dan lingkungan sosial. Setiap lingkungan pendidikan memiliki peranan dan fungsi masing-masing yang sama pentingnya, lingkungan juga sangat mempengaruhi terbentuknya manusia. Apabila lingkungan baik manusia yang terbentuk juga baik, pula sebaliknya. Lingkungan membentuk karakter manusia, oleh karenanya lingkungan yang baik perlu diusahakan manusia agar terbentuk karakter yang baik.setiap lingkungan juga memiliki keterkaitan dan hubungan. Lingkungan keluarga yang baik belum menjamin karakter yang baik, begitu juga dengan lingkungan sekolah dan teman. Ketiganya harus memiliki keterkaitan yang sama-sama untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik.
Berdasarkan uraian diatas, penulis membuat makalah ini dengan judul “Lingkungan Pendidikan”.


B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian lingkungan pendidikan?
2.      Bagaimana lingkungan pendidikan keluarga?
3.      Bagaimana lingkungan pendidikan sekolah?
4.      Bagaimana lingkungan pendidikan masyarakat?
5.      Bagaimana hubungan sekolah dengan masyarakat?
C.     Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1.      Mengetahui apa pengertian lingkungan pendidikan?
2.      Menegatahui bagaimana lingkungan pendidikan keluarga?
3.      Mengetahui bagaimana lingkungan pendidikan sekolah?
4.      Mengetahui bagaimana lingkungan pendidikan masyarakat?
5.      Mengetahui bagaimana hubungan sekolah dengan masyarakat?








BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan secara umum diartikan sebagai kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan, dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang dapat mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya. Sedangkan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
     Jadi, lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap praktek pendidikan. Lingkungan pendidikan sebagai berbagai lingkungan tempat berlangsungnya proses pendidikan, yang merupakan bagian dari lingkungan sosial. Seperti diketahui, lingkungan pendidikan pertama dan utama adalah keluarga. Makin bertambah usia seseorang, peranan ligkungan pendidikan lainnya (yakni sekolah dan masyarakat) semakin penting meskipun pengaruh lingkungan keluarga masih tetap berlanjut.[1]
Berdasarkan perbedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga lingkungan pendidikan itu, maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan informal, pendidikan formal, pendidikan non formal. Pendidikan yang terjadi di ingkungan keluarga berlangsung alamiah dan wajar serta disebut pendidikan informal, sebaliknya pendidikan di sekolah adalah pendidikan yang secara sengaja dirancang dan dilaksanakan dengan aturan-aturan yang ketat, seperti harus berjenjang dan berkesinambungan, sehingga disebut pendidikan formal. Sedangkan pendidikan di lingkungan masyarakat (umpamanya kursus dan kelompok belajar) tidak dipersyaratkan berjenjang dan berkesinambungan, serta dengan aturan-aturan yang lebih longgar sehingga disebut pendidikan non formal.
Sebagai pelaksanaan pasal 31 ayat 2 dari UUD 1945, telah ditetapkan UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas (beserta peraturan pelaksanaannya) yang menata kembali pendidikan di Indonesia, termasuk lingkungan pendidikan. Sisdiknas itu membedakan dua jalur pendidikan, yakni jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang berjenjang dan bersinambungan. Mulai dari pendidikan prasekolah (taman kanak-kanak), pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Sedangkan jalur luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang harus berjenjang dan berkesinambungan, baik yang dilembagakan maupun tidak, yang meliputi pendidikn keluarga, pendidikan prasekolah (seperti kelompok bermain dan penitipan anak), kursus, kelompok belajar, dan sebagainya.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial, budaya) utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan ini terutama dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui proses prtumbuhan dan perkembangan manusia sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya akan berlangsung secara amiah dan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat dan menyimpang dari tujuan pendidikan.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedemikian rupa agar dapat diperoleh peluaang pencapaian tujuan secara optimal, dan dalam waktu serta dengan daya/dana yang seminimal mungkin. Dengan demikian diharapkan mutu sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal itu hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat mlaksanakan fungsinya.[2]

B.     LINGKUNGAN PENDIDIKAN KELUARGA
     Keluarga adalah tempat pertama di mana proses pendidikan berlangsung. Di dalam keluarga, benih pendidikan mulai tumbuh dalam hubungan cinta kasih, tolong-menolong, dan saling memberi pengertian, pengetahuan, peringatan, bimbingan, dan pengarahan secara timbal balik di antara suami-istri dan antara orang tua kepada anak-anak.
     Pada mulanya, pendidikan berlangsung secara hereditis. Orang tua percaya pertama kali memberikan pengetahuan instingtif berupa kasih sayang, perlindungan, dan penjagaan ketat kepada anak-anak. Setelah itu, orang tua memberikan pengetahuan empirik seperti percontohan, bimbingan, dan arahan. Kemudian memberikan pengetahuan rasional ke arah pemecahan masalah, seperti menentukan pilihan, mengatur kegiatan terencana, dan mulai membentuk sikap percaya diri.
     Tanggung jawab orang tua terhadap anak mencerminkan suatu ciri khas pendidikan keluarga. Di dalam keluarga, anak mendapat bimbingan dan perawatan dalam rangka membentuk perwatakan dan kepribadian anak, untuk menjadi dirinya sendiri atau menjadi diri pribadi yang utuh.
Di dalam kehidupan keluarga, kegiatan pendidikan berlangsung dengan sasaran pencerdasan spiritual, berupa:
1.      Moral syukur dalam menerima setiap kelahiran, keberuntungan, dan bahkan nasib buruk sekalipun;
2.      Moral sabar dalam menghadapi segala macam persoalan kehidupan;
3.      Moral ikhlas dalam menghadapi akhir kehidupan (kematian) dan bencana yang memusnahkan.[3]
Tanggung jawab pendidikan yang perlu disadarkan dan dibina oleh kedua orang tua terhadap anak antara lain sebagai berikut :
1.  Memelihara dan membesarkannya. Tanggung jawab ini merupakan dorongan alami untuk dilaksanakan, karena anak memerlukan makanan, minum dan perawatan, agar ia dapat hidup secara berkelanjutan.
2.  Melindungi dan menjamin kesehatannya, baik secara jasmaniah maupun rohaniyah dari berbagai gangguan penyakit atau bahaya lingkungan yang dapat membahayakan dirinya.
3.  Mendidiknya dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi hidupnya, sehingga apabila ia telah dewasa ia mampu berdiri sendiri dan membantu orang lain serta melaksanakan kekhalifahannya.
4.  Membahagiakan anak untuk dunia dan akhirat dengan memberinya pendidikan agama sesuai dengan ketentuan Allah sebagai tujuan akhir hidup muslim.
   Dalam konsep pendidikan modern, kedua orang tua harus sering berjumpa dan bedialog dengan anak-anaknya. Pergaulan dalam keluaraga harus terjalin secara mesra dan harmonis. Kekurangakraban kedua orang tua dengan anaknya dapat menimbulkan kerenggangan kejiwaan yang dapat menjurus kepada kerenggangan secara jasmaniah.
   Cara pendidikan anak dapat ditempuh pula dengan menimbulkan kesadaran berkeluarga, yaitu ia adalah salah anggota keluarga di dalam rumahnya. Ia mempunyai ayah dan ibu serta saudara (kakak atau adik) sekandung. Juga dalam keluarga ini ada nenek, kakek atau saudara lain yang harus dihormati. Ia tidakk dapat dan tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada orang lain dan harus berlaku sopan sesuai dengan ajaran agama dan adat yang berlaku. Kepada adiknya ia harus sayang dan kepada kakaknya harus hormat dan kepada orang tua dan kakek-nenek memuliakannya. Bila hendak meninggalkan rumah sepulang dari bepergian sebaiknya mengucapkan “Assalamu’alaikum”. Minta izinlah kepada orang tua terlebih dahulu bila akan keluar rumah. Kalau ada orang tua yang sedang berbicara, jangan ikut pula menggabungkan diri karena tingkah laku demikian tidak sopan, terkecuali kalau dipanggil.[4]
Dalam UU RI No. 2 Tahun 1989 tentang Sisdiknas yang menegaskan fungsi dan peranan keluarga dalam pencapaian tujuan pendidikan yakni membangun manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral, dan keterampilan (Pasal 10 Ayat 4). Dalam penjelasan undang-undang tersebut ditegaskan bahwa pendidikan keluarga itu merupakan salah satu upaya mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengalaman seumur hidup. Pendidikan dalam keluarga memberikan keyakinan agama, nilai budaya yang mencakup nilai moral dan aturan-aturan pergaulan serta pandangan, keterampilan dan sikap hidup yang mendukung kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara kepada anggota keluarga yang bersangkutan (Undang-Undang, 1992: 26). Selanjutnya, dalam penjelasan ayat 5 Pasal 10 ditegaskan bahwa pemerintah mengakui kemandirian keluarga untuk melaksanakan upaya pendidikan dalam lingkungan sendiri.[5]

C.    LINGKUNGAN PENDIDIKAN SEKOLAH
Tidak semua tugas mendidik dapat dilaksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan. Oleh karena itu dikirimkanlah anak ke sekolah. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan  anak-anak  selama mereka  diserahkan kepadanya.[6] Pada dasarnya pendidikan sekolah merupakan bagian dari pendidikan keluarga yang sekaligus juga merupakan lanjutan dari pendidkan keluarga. Di samping itu, kehidupan di sekolah adalah jembatan bagi anak yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.
Yang dimaksud dengan pendidikan di sini adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat dan dengan mengikuti syarat- syarat yang jelas dan ketat (mulai dari Taman Kanak- Kanak sampai Perguruan Tinggi).[7] Oleh karena itu, sebagai sumbangan sekolah terhadap pendidikan, diantaranya adalah:
1.      Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
2.      Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat  yang sukar atau tidak dapat diberikan di rumah.
3.      Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca,menulis, berhitung, menggambar serta ilmu-ilmu lain yang sifatnya mengembangkan kecerdasan dan pengetahuan.
4.      Di sekolah diberikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membedakan benar atau salah dan sebagainya.
5.      Dan lain-lain.
Berkenaan dengan sumbangan sekolah terhadap pendidikan itulah, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: tumbuh sesudah keluarga (pendidikan kedua), lembaga pendidikan formal, dan lembaga pendidikan yang tidak bersifat kodrati. Di samping itu, pendidikan sekolah juga mempunyai ciri-ciri khusus yaitu:
1.      Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarkhis.
2.      Usia siswa (anak didik) di suatu jenjang relatif homogen
3.      Waktu pendidikan relatif lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.
4.      Isi pendidikan ( materi) lebih banyak yang bersifat akademis dan umum.
5.      Mutu pendidikan sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan di masa yang akan datang.
Lingkungan sekolah merupakan lingkungan pendidikan utama yang kedua. Siswa-siswi, guru, administrator, konselor hidup bersama dan melaksanakan pendidikan secara teratur  dan terencana dengan baik.[8]
D.    LINGKUNGAN PENDIDIKAN MASYARAKAT
Masyarakat dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dalam berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia adalah laboratorium besar tempat para  anggotanya mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Disamping itu masyarakat juga termasuk pemakai atau the User dari para anggotanya. Kualitas dari suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya.
Masyarakat merupakan lingkungan pendidikan non formal yang memberikan pendidikan secara sengaja dan berencana kepada seluruh anggotanya tetapi tidak sistematis. Secara fungsional setruktural, masyarakat ikut mempengaruhi terbentuknya sikap social para anggotanya, melalui pengalaman yang berulang kali. Mengingat pengalaman yang beraneka ragam, maka sikap social anggotanya pun beraneka ragam pula.
Jika di lembaga pendidikan pendidiknya adalah guru, maka dalam masyarakat adalah orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap pendewasaan anggotanya melalui sosialisasi lanjutan yang diletakkan dasar-dasar oleh keluarga dan juga oleh sekolah sebelum mereka masuk ke dalam masyarakat.melalui sosialisasi lanjutan, maka kedewasaan social para anggotanya akan terbentuk. Dengan demikian akan melaksanakan fungsinya sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang banyak.
Masyarakat secara fungsional dan structural bertanggung jawab terhadap perilaku dan tingkah laku warganya di masing-masing lingkungannya. Secara konsepsional pemimpin masyarakat  bertanggung jawab mengawasi, menyalurkan, membina, dan meningkatkan kualitas anggotanya, dan dengan demikian aktivitas masing-masing anggota masyarakat berjalannya menurut fungsinya dalam mewujudkan masyarakat yang damai.[9]
Masyarakat juga dapat di artikan sebagai bentuk kehidupan social dan merupakan perluasan dari keluarga. Karena itu, suatu kehidupan masyarakat mempunyai bentuk dan struktur berdasarkan tata nilai dan tata budaya sendiri. Di dalam hubungan itu, berlangsung kegiatan-kegiatan social, ekonomi, hukum, politik, kebudayaan, dan bahkan kegiataan spiritual keagamaan yang bisa saling mendukung. Masyarakat berposisi dan berfungsi sebagai wadah dan wahana pendidikan.
Masyarakat dapat dipahami sebagai lingkungan pendidikan yang “alternative” yang juga biasa disebut dengan pendidikan social (masyarakat). Jenis, sifat, dan bentuk pendidikan yang berlangsung dan dialami di dalam masyarakat, menurut motifnya sangat bervariasi, ada yang materi pembelajarannya dengan keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Ada pula yang secara khusus membentuk ketrampilan hidup, sesuai bidang pekerjaan. Dan ada juga yang proses kegiatan pembelajaranya menekankan pada pembentukan kesusilaan dan keagamaan, dan menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran di sekolah.[10]
Alasan penyelanggaraan pendidikan masyarakat, yaitu :
1.      Bagi mereka yang memang tidak mampu bersekolah.
Alasan itu bisaa terjadi karena masalah ekonomi, bisa karena cacat kodrat, dan sebagainya.
2.      Bagi mereka yang putus sekolah, karena kemampuan ekonomi, kesehatan, keamanan, dan sebagainya.
3.      Bagi mereka yang sedang aktif mengikuti kegiatan pendidikan sekolah. Kelompok ini disebabkan karena ketertinggalan dalam mengikuti pelajaran, keinginan menambah pengetahuan yang dirasa kurang, dan sebagainya.
Sifat pendidikan masyarakat :
1.      Tidak seperti pendidikan sekolah, pendidikan masyarakat tidak mengenal jenjang (kelas/strata) tetapi di proses menurut paket. Oleh karena itu, biasanya program pendidikan diselenggarakan dalam waktu yang relative pendek.
2.      Tidak pula seperti pendidikan sekolah, peserta pendidikan masyarakat bersifat heterogen. Peserta didik tidak dikategorikan menurut umur, jenis kelamin, pekerjaan, kepentingnan, dsb.
3.      Seperti system pendidikan sekolah, pemebelajaran diselenggarakan menurut jadwal, metode formal, dan untuk menetukan kualias standar, dilakukan evaluasi.
4.      Isi dan materi pembelajaran ditekankan pada keterampilan kerja demi keperluan peningkatan taraf hidup. Karena itu, materi pemebelajarn bersifat khusus dan praktik. Kemudian, setelah menyelesaikan satu satuan paket materi pembelajaran, diberikan pula sertifikat (untuk kepentingan pekerjaan).
Sasaran pendidikan masyarakat :
1.      Bagi remaja putus sekolah. Golongan remaja ini berpotendsi menjadi pengagguran. Oleh Karena itu, perlu mendaptkan pendidikan keterampilan atau kejujuran. Adapun sasarannya adalah membia kreatiitas dan keterampilan atas pekerjaan tertentu agar selanjutnya dapat memnuhi kebutuhan kehidupannya sendiri. Misalnya, kyrsus perbengkelan, menjahit, dan senbagaimya.
2.      Bagi para buruh, petani, dan nelayan. Dilingkungan masyaakat yang sedang berkembang, kehidupan masyarakat umumnya berlangsung dengan bercocok tanam. Sehubungan dengan pertambahan penduduk, peningkatan produksi sandang dan pangan senantiasa menjadi tuntutan utama. Untuk itulah kepada mereka perlu diberiksn penyuluhan dan bimbingan metode, system, dan teknik baru dalam hal peningkatan produksi.
3.       Bagi para orang tua. Seiring kemajuan IPTEK banyak diantara mereka yang pada masa mudanya belum mempelajarinya. Kepada mereka perlu diperkenalkan dan dibimbing bagaimana mempergunakan peralatan modern yang sarat tekhnologi canggih, terutama yang berubungan dengan managemen pemeliharan kesehatan.
4.      Bagi para ibu rumah tangga yang kurang pendidikan, perlu juga diperlukan pendidikan khusus. Terutama hal hal yang berhubungan dengan kerumah tanggaan, khususnya tentang pendidikan anak, kesehatan, ekonomi,dan sebagainya
Demikianlah beberapa contoh kegiatan pembelajaran dengan sasaran khusus yang diselenggarkan dilembaga pendidikan masyarakat. Pada hakikatnya, lembaga pendidikan masyarakat perlu mengembangkan kegiatannya kearah semua aspek kehidupan, yang khusus menekankan pada masalah pendidikan moral. Pemikiran seperti ini dimajukan mengingat meningkatnya kemerosotan moral disemua keidupan.[11]
E.     HUBUNGAN SEKOLAH DAN MASYARAKAT
Sekolah dan masyarakat adalah dua unsur yang saling berhubungan, dimana bagian dari masayarakat adalah sekolah, dan bagian dari sekolah terdapat masyarakat. Sekolah berdiri ditengah-tengah masyarakat karena masyarakat membutuhkan sekolah untuk menunjang kebutuhan pendidikan yang lebih baik. Di dalam sekolah terdapat masyarakat yang sehingga sekolah dapat berjalan dengan baik yaitu guru, siswa, petugas kebersihan, penjual kantin yang semuanya adlaah masyarakat. Sekolah memiliki hubungan dengan masyarakat. Ikut berpartisipatis dengan masyarakat merupakan hubungan erat anatar sekolah dengan masyarakat. Berbagai bentuk partisipasi yang dapat dilakukan antara lain:
1.      Mengadakan penyuluhan dan ceramah kepada masyarakat misalnnya tentang agama, bahaya narkotika, pendidikan pemuda dn pengenalan tentang pelaksanaan pendidikan di sekolah.
2.      Mengadakan bakti sosial misalnya kerja bakti, pengairan kebersihan, pemberantasan tiga buta dan lain-lain.
3.      Menjadi anggota pengurus organisasi lembaga ketahanan masyarakat desa maupun organisasi lainnya.[12]
Dalam bentuk partisipasinya perlu diingat batas-batasnya agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Selain itu, hubungan masyarakat dengan sekolah dapat memperkenalkan peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat. Di masyarakat juga banyak organisasi masyarakat yang berkembang, disana tidak jarang pula tenaga guru yang  ikut berpartisipasi dalam memangku jabatan di masyarakat misalnya: pengurus LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa), KUD (Koperasi Unit Desa), PKK, Karang Taruna. Pengaruh sekolah terhadap masyarakat juga dapat dilakukan dengan penyuluhan-penyuluhan ke desa untuk memberi wawasan tentang kesehatan, bahaya narkoba, kekerasan pada anak dan sebagainya sehingga secara tidak langsung masyarakat mengetahui sistem pendidikan yang ada pada sekolah dan hal itu juga menimbulkan rasa keterbukaan antara masyarakat dengan sekolah sehingga masyarakat tidak berpikir yang aneh-aneh kepada sekolah.
Setidaknya ada empat macam yang bisa diperankan/pengaruh sekolah terhadap perkembangan masyarakat:
1.      Mencerdaskan kehidupan banngsa. Kecerdasan masyarakat dapat dikembnagkan melalui pendidikan formal maupun informal. Melalui sekolah kecerdasan bisa diperoleh secara lebih matang daripada melaui media yang lain karena sekolah adalah lembaga pendidikan resmi yang memiliki sistem dan metode pembelajaran yang baku.
2.      Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat. Melalui pendidikan sekolah terjadi transformasi pengetahuan antara yang satu dengan lainnya. Melalui sekolah juga pembaruan-pembaruan ilmu pengetahuan disampaikan secara sistematis, sehingga masyarakat tidak ketinggalan zaman.
3.      Membekali masyarakatuntuk siap kerja. Melalui sekolah-sekolah kejuruan seperti SMK, SMKK, SMEA peserta didik diaarkan untuk menjadi calon pekerja yang siap kerja di lapangan. Karena sekolah kkejuruan membekali peserta didik dengan satu bidang ilmu khusus untuk mematangkan peserta didik di jurusannnya tersebut. Sehingga setelah lulus sekolah sudah siap kerja dengan baik karena mendapat pembekalan ilmu tidak sembarangan.
4.      Melahirkan sikap positif dan kontruktif bagi masayarakat sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.[13]
Selain itu juga terdapat fungsi dan peranan sekolah terhadap masyarakat:
1)      Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
2)      Meningkatkan kecerdasan.
3)      Meningkatka ketrampilan dan mempersiapkan tenaga terampil, serta dapat meningkatkan produksi kerja.
4)      Membentuk pribadi dan budi pekerti.
5)      Melestarikan nilai-nilai yang terpuji dalam masyarakat.
6)      Pembangunan nilai yang baru yang dianggap serasi oleh masyarakat dalam menghadapi tantangan perkembangan ilmu, teknologi danmodernisasi.
7)      Menanamkan dan mempertebal semangat kebnagsaan.
8)      Menghasilkan penemuan-penemuan sebagai bahan atau konsep-konsep pembangunan (pembaruan) masyarakat.
Selain hubungan antara sekolah terhadap masyarakat, masyarakat juga berpengaruh terhadap sekolah. Sekolah berdiri di tengah-tengah masyarakat yang semakin berkembang dari waktu-ke waktu. Sekolah di dalamnya adalah bagian dari masyarakat yang hidup sekitar sekolah tersebut. Perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat mempengaruhi program, proses, kurikulum dan kegiatan sekolah. Sehingga mau tidak mau sekolah terus mengembangkan kurikulum dan materi pembelajaran sesuai perkembangan masyarakat. Perubahan dalam pengembangan pembelajaran tersebut mengaharuskan terbentuknya peserta didik yang lebih mau dan berkembang oleh karenanya pelaksanaan pendidikan mengalami perubahan yang lebih maju untuk memenuhi tuntutan tersebut,seperti wajib belajar 12 tahun. Karena masyarakat yang bertmutu akan mempengaruhi mutu sekolah pula.
Pengaruh lain dari peranan masyaraat terhadap sekolah adalah:
1.      Sebagai arah menentukan tujuan .
2.      Sebagai masukan dalam menentukan proses belajar mengaar.
3.      Sebagai sumber belajar.
4.      Sebagai pemberi dana dan fasilitas lainnya.
5.      Sebagai laboratorium guna mengembangkan dan penelitian sekolah.[14]
Peranan masyarakat terhadap sekolah antara lain terutama dalam:
1.      Pengawasan.
2.      Bantuan-bantuan yang berupa pembiayaan sekolah (gedung, sarana, prasarana)
3.      Penyediaan tempat untuk mendirikan sekolah atau lapangan sekolahh dan lain-lain keperluan sekolah.
4.      Penyediaan narasumber
5.      Masyarakat sebagai laoratorium atau sumber belajar.
Manfaat masyarakat sebagai lingkungan pendidikan antara lain:
1.      Bagi masyarakat:
a.       Adanya bantuan tenaga penididik.
b.      Masyarakat akan dapat secara terbuka menuyatakan realita di masyarakat tersebut kepada peserta didik yang datang di lingkungan pendidikan masyarakat tersebut.
c.       Masyarakat lebih mengenal fungsi sekolah untuk pembangunan bagi mereka.
d.      Masyarakat terdorong untuk makin maju dalam berbagai bidang kehidupannya.
2.      Bagi sekolah
a.       Sekolah mendapat masukan dalam penyempurnaan pendidikan/pengajaran.
b.      Memberikan pengalaman langsung dan praktis bagi siswa dalam berbagai hal
c.       Lebih mengenal lingkungan sosio-budaya masyarakat yang penting dalam kesatuan dan persatuan bangsa.
d.      Mendekati masalah secara interdisipliner
e.       Mengerti dan harus tanggap terhadap kebutuhan masyarakat dalam masa pembangunan ini
f.       Terdorong untuk mengerti lebih dalam tentang berbagai segi masyarakat.
g.      Mamanfaatkan nara sumber dari masyarakat
h.      Sekolah hanya menerima bantuan dari masyarakat anatara lain pemikiran, dana, sarana, dan lain-lain.
i.        Memanfaatkan masyarakat sebagai laboratorium yang sesuai dengan keperluan siswa/mata pelajaran tertentu. [15]

BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Lingkungan pendidikan adalah latar tempat berlangsungnya pendidikan khususnya pada 3 lingkungan utama pendidikan yaitu: keluarga, sekolah, masyarakat.
2.      Keluarga adalah tempat pertama di mana proses pendidikan berlangsung. Di dalam keluarga, benih pendidikan mulai tumbuh dalam hubungan cinta kasih, tolong-menolong, dan saling memberi pengertian, pengetahuan, peringatan, bimbingan, dan pengarahan secara timbal balik di antara suami-istri dan antara orang tua kepada anak-anak.
3.      Sekolah dan masyarakat adalah dua unsur yang saling berhubungan, dimana bagian dari masayarakat adalah sekolah, dan bagian dari sekolah terdapat masyarakat. Sekolah berdiri ditengah-tengah masyarakat karena masyarakat membutuhkan sekolah untuk menunjang kebutuhan pendidikan yang lebih baik. Di dalam sekolah terdapat masyarakat yang sehingga sekolah dapat berjalan dengan baik yaitu guru, siswa, petugas kebersihan, penjual kantin yang semuanya adlaah masyarakat. Sekolah memiliki hubungan dengan masyarakat.
4.      Masyarakat dilihat dari konsep pendidikan, masyarakat adalah sekumpulan banyak orang dalam berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai kepada yang berpendidikan tinggi. Ia adalah laboratorium besar tempat para  anggotanya mengamalkan semua ketrampilan yang dimilikinya. Disamping itu masyarakat juga termasuk pemakai atau the User dari para anggotanya. Kualitas dari suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya.
5.      Sekolah dan masyarakat memiliki hubungan yang saling mempengaruhi. Pengaruh peranan masyaraat terhadap sekolah adalah:
a.       Sebagai arah menentukan tujuan .
b.      Sebagai masukan dalam menentukan proses belajar mengaar.
c.       Sebagai sumber belajar.
d.      Sebagai pemberi dana dan fasilitas lainnya.
e.       Sebagai laboratorium guna mengembangkan dan penelitian sekolah
Pengaruh sekolah terhadap perkembangan masyarakat:
a.       Mencerdaskan kehidupan banngsa.
b.      Membawa virus pembaruan bagi perkembangan masyarakat.
c.       Membekali masyarakat untuk siap kerja.
d.      Melahirkan sikap positif dan kontruktif bagi masayarakat sehingga tercipta integrasi sosial yang harmonis di tengah-tengah masyarakat.

B.       Saran
1.      Untuk keluarga, diharapkan agar dapat menjadi lingkungan pendidikan yang mampu mengembangkan kemampuan spiritual peserta didik secara lebih mendalam dan kuat.
2.      Untuk lembaga pendidikan, diharapkan mampu menyediakan fasilitas baik dari segi jasmani ataupun rohani agar menciptakan peserta didik yang berkemampuan intelektual tinggi,
3.      Untuk masyarakat, diharapkan agar mampu memberikan pengaruh positif kepada sesama agar terciptanya masyarakat yang sejatera.
4.      Untuk masyarakat dan lembaga pendidikan, diharapan agar dapat menyelaraskan kehidupan di lingkungan masyarakat dan di lingkungan sekolah karena antara lingkungan satu dnegan yang lainnya saling melengkapi satu sama lain.




DAFTAR PUSTAKA

Ihsan, Fuad, Dasar-Dasar Kependidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.
Maunah, Binti,  Ilmu Pendidikan, Yogyakarta: Teras, 2009.
Suhartono, Suparlan, Filsafat Pendidikan, Jakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2009.
Umar Tirtarahardja dan L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, Jakarta: PT Rineka  Cipta        2008
Burhanuddin Afid, Pengertian Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan, Wordpress, 2013, diakses dari     https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/08/pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan.html   pada 01 Nov 2016 pukul 21.00.


Lampiran
TANYA JAWAB
1.    Pertanyaan      : Bagaimana solusi terhadap kekurangakraban orang tua dengan anaknya yang disebabkan oleh ketegasan orang tua? [Siti Rofiah (1603096023)]
Jawaban       : oleh Nur Fatimah (1603096008)
Sebaiknya orang tua untuk lebih memperhatikan anaknya. Contohnya yaitu seperti menemani anak ketika belajar. Dengan hal tersebut maka akan terjadi komunikasi dengan baik antara anak dan orang tua sehingga anak merasa lebih diperhatikan oleh orang tua. Selain itu orang tua seharusnya meluangkan waktu lebih banyak untuk anaknya. Dengan begitu anak akan merasa bahwa orang tua sangat peduli kepadanya.
  1. Pertanyaan      : Apa yang dimaksud dari pendidikan masyarakat sebagai laboratorium besar untuk sumber belajar? Berikan contohnya! [ Nur Aisyah (1603096035)]
Jawaban          : oleh Medy Nadirawati (1603096026)
Pendidikan masyarakat sebagai laboratorium besar untuk sarana belajar maksudnya yaitu, labortorium itu adalah suatu tempat atau wadah yang besar untuk menampung sesuatu barang atau hasil penelitian. Begitu juga dengan lingkungan pendidikan masyarakat, merupakan suatu tempat atau wadah besar untuk mengamalkan semua ketrampilan para anggotanya. Contohnya : Pendidikan masyarakat mendirikan koperasi desa sebagai sarana memberi kebutuhan anggota masyarakatnya.
3.      Pertanyaan      : Apakah home schooling termasuk pendidikan lingkungan disekolah dan apa pengaruhnya? [Putri Lusiana (1603096021)]
Jawaban          : oleh Radita Hani N. W. (1603096025)
Home Schooling tidak termasuk dalam pendidikan lingkungan di sekolah, tetapi termasuk pada pendidikan lingkungan masyarakat, karena home schooling dilaksanakan di rumah secara privat/pribadi dan hanya terjadi interaksi antara seorang guru dengan seorang murid, home schooling juga tidak mempunyai aturan seperti layaknya peraturan di sekolah yang mempunyai aturan-aturan yang ketat. Peraturan yang ada terjadi jika adanya kesepakatan antara seorang pendidik dan siswa. Pengaruhnya terhadap seorang siswa/murid adalah seorang murid memiliki kemampuan intelektual yang lebih unggul tetapi memiliki kemampuan emosional yang rendah.
4.      Pertanyaan      :Bagaimana jika lingkungan masyarakat tidak mendukung untuk sarana pendidikan? [Puti Mula Ayu (1603096006)]
Jawaban          : oleh Rizqi Ananda Safitri (1603096027)
  Pendidikan berdiri di tengah-tengah masyaraakat, antara pendidikan dengan masyarakat memiliki keterkaitan yang erat. Pendidikan ada karena adanya kewenangan dari masayarakat dan masayarakat membutuhkan pendidikan untuk memperbaiki kehidupannya. Lalu bila lingkungan masyarakat tidak mendukung adanya kegiatan pembelajaran tentunya akan sangat berpengaruh bagi kehidupan pendidikan di daerah itu. Pertama yaitu tidak mendapatkan fasilitas yang sesuai karena fasilitas sekolah berasal dari masayarakat. Kedua, kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung dengan baik karena baik siswa maupun tenaga pengajar kurang memadai. Ketiga, karena kurangnya fasilitas dan tenaga maupun siswa kualitas pendidikan di masayarakat itu kurang baik.










[1]Afid Burhanuddin., Pengertian Fungsi dan Jenis Lingkungan Pendidikan. Wordpress, 2013, Di akses dari https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/08/pengertian-fungsi-dan-jenis-lingkungan-pendidikan.html pada 01 November 2016 pukul 21.00

[2] Umar Tirtarahardja dan L. La Sulo, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta: Jakarta, 2008, hlm.163-165.
[3] Suparlah Suhartono, Filsafat Pendidikan, AR-RUZZ MEDIA, Jogjakarta, 2009, hlm. 153-154.
[4] Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Pendidikan: Komponen MKDK, Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm. 63-64.
[5] Umar Tirtarahardja dan S.L. La Sulo, OpCit., hlm. 168-172.
[6] Binti Maunah, Ilmu Pendidikan, Teras, Yogyakarta, 2009, hlm. 93
[7] Ibid., hlm. 100.
[8] Ibid., hlm. 94
[9] Fuad Ihsan, OpCit.,, hlm. 84-86
[10] Suparlah Suhartono, OpCit., hlm. 158-160
[11] Ibid., hlm. 160-163
[12] Fuad Ihsan, OpCit, hlm. 94.
[13] Ibid., hlm. 99.
[14] Ibid., hlm. 101-102.
[15] Ibid., hlm. 105-106.